51

8.5K 865 34
                                        

Aku duduk termenung di ruang tamu rumah baruku, sudah 8 hari semenjak kematian kedua orangtuaku, aku masih terdiam dan tidak ingin bicara pada siapapun bahkan saat keluarga ibuku datang bersama Ade dan Adi, aku juga memilih diam

Pemakaman orangtuaku semuanya yang mengurus pakde dan omku, sampai sekarang acara yasinan kedua orangtuaku pun yang mengurus mereka

Air mataku rasanya sudah kering saat jenazah ayah dan ibu sampai dirumah, bahkan sampai mereka di kuburkanpun aku tidak bisa menangis lagi, dosaku terlalu besar pada mereka, bahkan aku belum meminta maaf pada mereka tapi mereka sudah tiada

"Ana...."

Aku menoleh kearah budhe Muk yang datang menghampiri ku, dia duduk didepanku dan menatap ku iba lalu beberapa keluarga dari ibuku datang menghampiri ku dan duduk di samping kanan kiriku

"Kamu ikut simbah saja ya pindah kerumah nenek bersama Adi dan Ade",ucap nenekku dan aku menggeleng pelan

"Aku disini saja mbah, ibu dan ayah meninggal karenaku",sahutku pelan

Kurasakan bahuku dibelai lembut budhe Muk "tidak Ana, semua itu sudah takdir, jangan menyalahkan diri sendiri"

"Andai saja aku tidak bertengkar dengan ayah dan ibu mungkin tidak akan seperti ini"

Kepalaku menunduk dalam sedangkan keluarga ibuku memilih diam

"Om sudah mengurus surat kepindahan sekolah Ade dan Adi, kamu yakin tidak mau ikut kami?", tanya omku lagi

Aku menggeleng pelan "tidak om, aku akan mengurus kebun dan kolam disini"

Omku menghela nafas pelan "ya sudah, kita sekeluarga pulang dulu ya, kamu jaga diri baik-baik disini, kalau ada apa-apa segera telfon kami"

Aku mengangguk dan mencium tangan nenek,kakek, budhe, om, tante, dan pakde

Ade dan Adi menatapku sendu "mbak Ana ikut kita aja ya",ajak Adi

"Tidak Adi, mbak Ana disini saja"

Adi dan Ade mencium punggung tanganku, aku mengantar mereka masuk kedalam mobil, kulambaikan tanganku kearah mereka "hati-hati dijalan"

"Baik-baik disini ya Ana",ucap budhe Muk

Aku tersenyum tipis dan mengangguk lalu mobil mereka meninggalkan perkarangan rumah baruku

Suasana mendadak sepi setelah kepergian keluarga ibuku, kedua mataku menyipit saat sebuah lampu mobil mengenai tubuhku

Aku terdiam melihat Katya keluar dari mobil nya dengan beberapa bodyguard nya, Katya menghampiri ku dengan tergesa dan saat ia hendak memelukku, aku segera mundur beberapa langkah "ada apa datang kemari nona Katya yang terhormat?"

"Ana, aku turut berduka cita atas meninggalnya kedua orangtuamu"

"Tau dari mana orangtuaku meninggal? Ah jangan-jangan semua ini adalah rencanamu ya Katya? Kamu mengirimkan foto kemesraan kita ke orangtuaku agar kami bertengkar, lalu setelah orangtuaku pergi, kamu menyewa sopir truk untuk menabrak mobil orangtuaku, lalu kamu datang kemari untuk mengejekku karena kedua orangtuaku meninggal, apa aku benar?"

Katya menggeleng cepat "tidak Ana ,aku tidak pernah mengirimkan apapun pada orang tuamu, dan saat kamu memutuskanku, aku sibuk mencarimu kemana-mana di Jakarta dan akhirnya aku memutuskan untuk kemari karena aku tidak menemukanmu di Jakarta, saat aku kemari rumahmu sudah penuh oleh pelayat, akhirnya aku memilih menginap dihotel dekat sini agar suasana rumahmu lebih kondusif dulu, aku tidak berani menemuimu karena saat itu kamu yang memutuskanku, aku takut kamu marah denganku saat aku kemari apalagi hatimu pasti sedang tidak dalam kondisi baik karena meninggalnya orangtuamu, aku baru kesini sekarang karena keluarga mu baru pergi, jadi aku memutuskan kemari untuk bicara 4 mata denganmu"

Not Me (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang