24. Tirex dan Raden 2

1.9K 340 7
                                        

Dina turun dari angkot Bang Jali dan berjalan kaki dari perempatan jalan menuju rumahnya. Ia tak ingin pria itu mengantarnya sampai rumah karna Dina ingin menikmati suasana sore hari. Cewek itu memakai earphone. Memutar lagu kesukaannya sekencang mungkin.

Beberapa kali cewek itu bergumam mengikuti lirik lagu. Hingga ia tak sadar seseorang telah mengikutinya dari belakang.

"Dina," panggil cowok itu. Namun, Dina tak menghiraukannya. Telinganya tersumbat lagu.

"Din,"

"I'm on the next level yeah,"

"Pantesan nggak denger." Cowok itu melajukan motornya mendekati Dina. Ia menarik earphone yang ia pakai.

Dina menoleh. "Heh!" teriak Dina kaget.

Cowok itu menghentikan motornya dan tersenyum padanya. "Halo sayang,"

Kedua alisnya menyatu. "Ngapain lo?"

"Jemput lo sayang,"

"Jemput? Ke Gramedia?"

Marko memutar bola matanya malas. "Gramedia mulu,"

"Kemana? Kalo nggak ke Gramedia gue nggak mau!"

"Ayo naik," Marko memasangkan helm biru milik Dina.

"Nggak mau!" Cewek itu mencoba melepas helm.

"Naik atau gue-"

"Kemana sihh?!!"

"Gue ada tugas,"

"Tugas? Kerjain aja sendiri!"

"Sama pacar nggak boleh gitu!"

Cewek itu berdecak pelan. "Ck,"

"Ayo, gue punya hadiah buat lo,"

Dina menaikkan satu alisnya. "Gak percaya gue sama lo,"

Marko tertawa terbahak-bahak. "Kali ini gue beneran punya hadiah istimewa buat lo,"

"Apaan?"

"Gue nggak bakal kasih tau lo, sekarang ayo ikut gue. Gak ada penolakan atau nggak, adik lo yang bakal kena akibatnya."

Dina melototkan matanya sempurna. "Jangan pernah lo sentuh adik gue,"

Marko terkekeh. "Asal lo nurut sama gue, adik lo bakalan aman."

"Come on baby,"

Dengan terpaksa. Dina memilih ikut Marko. Entah mau kemana, ia pun tak tau. Yang terpenting keluarganya aman dari godaan syaitan terkutuk.

"Bangsat!" umpat cewek itu membuat Marko terkekeh.

****

Seperti yang diucapkan Tirex kemarin, Raden sudah sangat mempersiapkan diri untuk bertarung menerima tantangan Tirex. Setelah menghubungi kedua belah pihak, ia pun segera meluncur ke TKP. Sebenarnya ia tidak mau melakukan ini, apalagi untuk sahabat-sahabatnya. Akan tetapi, Raden terpaksa. Ini semua untuk orang yang ia sayangi.

Raden mengendarai motornya menuju tempat seseorang yang menyuruhnya melakukan pengeroyokan. Yaitu, Marko.
Disana sudah ada Roy, bawahan Raden. Mereka tengah menunggu kehadirannya.

Tepat saat ia keluar dari gerbang rumahnya, Firman lewat dari arah kanan. Karna memang rumah mereka searah. Biasanya, Firman akan selalu menyapa atau menumpang pada Raden, tapi sekarang tidak. Bahkan melirik pun Firman enggan.

Raden menghela nafasnya kasar. "Gue nyesel nerima uang dari Marko, tapi gue bakal lebih nyesel kalo orang yang gue sayang pergi ninggalin gue. Maaf, kalo ini gue harus terima tantangan lo dulu, entah nanti gue bisa atau tidak memperbaikinya."

Secret MafiaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang