38. Sayap Pelindung Dina

3.6K 542 53
                                        

Dina melangkahkan kaki tanpa memedulikan jika setiap langkahnya menimbulkan jejak darah. Ia menenteng buku Zahra dan sepatu di kedua tangan. Namun, Dina malah melemparkan sepatunya di tempat sampah.

"Gak guna!"

Dina semakin dekat dengan pintu ruang uks yang tertutup. Jantungnya berdebar-debar. Bukan debaran cinta melainkan debaran kemarahan.

Hanabi menghentikan teman-temannya. Ia mencegah Daniar dan Gisel mengikuti Dina. Mereka menunggunya sedikit jauh dari uks.

"Biarkan Dina memulai aksi,"

Dina mendobrak pintu uks dengan keras. Semua orang yang ada di dalam terkejut bukan main. Firman, Antonio, Gazela dan Zahra melototkan mata lebar.

Tidak ada Tirex di sana, sebab ia kembali ke kantin untuk mengambilkan buku Zahra yang tertinggal. Itu semua atas permintaan Zahra, ia berkata ia melupakan buku pentingnya. Entah setan apa yang merasuki Tirex sehingga ia mau memenuhi permintaannya.

"Dina?" seru Antonio.

Dina meliriknya sebentar. Tanpa banyak kata-kata, cewek itu melemparkan buku tersebut tepat di depan wajah Zahra. Terdapat sedikit goresan pada pipinya.

Darah yang sebelumnya mengucur dari telapak tangannya menempel sempurna di buku Zahra.

"MAKAN TUH BUKU!"

Dina menutup kembali pintu uks dengan kencang hingga engselnya terlepas. Untung saja Firman sigap menahan pintu agar tidak jatuh.

Dina tidak akan ikut kelas lagi. Ia bolos hari ini. Persetan dengan hukuman. Dina ingin mencari tempat tenang. Lagipula sudah lama dirinya tidak membolos.

Dina melewati Hanabi dan teman-temannya. Mereka ingin mengikutinya namun dicegah oleh Dina.

"Jangan ikuti gue!"

Darah? Dina terluka?

Antonio mengepalkan tangannya. Ia berlari keluar mengejar Dina.

***

Dina menyeruput kopi susu di warung Saurus. Warung yang biasa Tirexay jadikan sebagai tempat tongkrongan. Beberapa dari geng Tirexay yang bolos tidak jadi pergi ke sana setelah melihat Dina.

Cewek itu tetap tidak memakai alas kaki apapun. Kakinya terasa perih, panas, dan nyeri. Ada pecahan beling yang belum ia cabut dari telapak kakinya. Meski sepatunya tebal, tetap saja benda tajam bening tembus di kakinya.

Masalah perutnya yang nyeri akibat menstruasi belum selesai, tapi hari ini banyak hal lain yang membuat emosinya semakin membludak.

Antonio menghampiri Dina di warung Saurus seraya menenteng kotak p3k dari uks.

"Memiliki riwayat lambung sangat bagus kalau kita minum kopi. Bisa menambah asam lambung semakin tinggi,"

Dina menoleh. Lirikannya sangat tajam. "Gue gak punya sakit lambung, sok tau lo."

Antonio terkekeh lalu ia duduk di sebelah Dina.

"Ngapain lo ke sini? Mau nyalahin gue juga?"

"Negatif aja lo sama gue?!"

Dina memutar bola matanya malas. Ia kembali meminum kopinya sedikit demi sedikit. Antonio menghela napas panjang. Ia memang benar jika Dina memiliki riwayat sakit lambung, Nur pernah bercerita pada Acha dan Antonio tak sengaja mendengarnya.

Antonio merebut kopi Dina, menjauhkannya dari jangkauan cewek itu lalu menarik kaki Dina dan meletakkannya di atas paha Antonio.

Cewek itu melongo kaget. "Eh-- ngapain lo!"

Secret MafiaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang