55. Good Bye Beauty Girl

1.6K 328 5
                                        

Sesekali Hanabi memasukkan cemilan jaring-jaring itu ke dalam mulutnya. Awalnya ia sengaja memamerkan beberapa cemilan ke Dina. Tapi cewek itu malah acuh tak acuh. Matanya selalu fokus pada hasil kesehatannya. Wajahnya murung setelah keluar ruangan.

Hanabi ingin menghibur Dina dengan cemilan. "Mau?"

Dina menggeleng. Wajahnya tetap saja murung. Terpaksa Hanabi merebut hasilnya walaupun cewek itu mencegahnya. Cewek itu fokus membaca hasil akhir cek up-nya.

Tanpa Hanabi sadari, Dina memakan semua cemilan Hanabi tanpa sisa. Dina memang sengaja membohongi Hanabi. Cewek itu paham, jika Dina murung, Hanabi pasti akan membelikan cemilan.

"Mana Gisel? Katanya lo ketemu dia?"

"Pulang,"

"Kok lo tau?"

"Sok tau aja sih."

Tak!

Jitakan keras andalan Dina mendarat sempurna di kepala Hanabi.

"Sakit, bego!"

Dina berjalan mendahului Hanabi. Badannya terasa remuk, ia tak mau otaknya mumet juga. Dina hanya ingin segera pulang ke rumah dan istirahat.

"Din, tunggu gue!"

Hanabi tertinggal cukup jauh. Cewek itu berjalan sangat cepat meninggalkan Hanabi. Dina sengaja membuat Hanabi berlari sambil menenteng snack Taro.

Cewek itu terkekeh. "Lemot!" umpatnya.

"Ck, pinter juga lo membodohi seseorang dengan ekspresi,"

"Itulah kelebihan Dinasaurus,"

Hanabi berdecak kesal. "Si muka dua,"

"Sorry, gue bukan Gisel yang pandai bermuka dua."

"Ya karna lo lebih jago daripada Gisel,"

"Gue emang punya dua muka pas lagi ngaca,"

Hanabi memutar bola matanya malas. Rambut gelombang Dina sangat menggiurkan. Ingin sekali Hanabi menjambaknya.

Saat tangannya hampir menyentuh rambutnya, Dina tiba-tiba berhenti.

Hanabi tak sempat menghentikan kakinya. Ia menabrak punggung Dina. "Anjing! Lo kenapa berhenti mendadak!"

"Ngapain lo di sini?" Dina tak merespon Hanabi, ia bertanya pada seseorang bernama Daniar yang ada di depannya.

"Cari lo," jawab Daniar santai.

"Kok di ruangan khusus Bidan? Lo hamil?" ceplos Dina curiga.

Daniar menggelengkan kepalanya beberapa kali. Tangannya menyembunyikan sesuatu di belakang.

"Oh," sahut Dina.

Cewek itu tak mau bertanya lagi. Meskipun Dina tau, apa yang di sembunyikan Daniar padanya, Dina tak ingin membuat keributan. Cewek itu pergi tanpa pamit.

Hanabi mengedipkan matanya lambat. Otaknya masih belum bisa mencerna kejadian ini. "Lo lagi marahan sama Dina?"

Daniar menggeleng. "Enggak, em, Han?"

"Hm?"

"Gue duluan,"

"Bukannya lo lagi cari Dina?"

"Ada urusan mendadak,"

Hanabi manggut-manggut kemudian menyusul Dina.

Biasanya, Dina akan mendesak sahabatnya untuk terus terang tentang permasalahan mereka. Tapi sekarang mereka berubah, tidak satu pun diantara mereka yang jujur dan blak-blakan satu sama lain kecuali Hanabi.

Secret MafiaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang