"Dai," ucap Kelvan dengan kedua tangannya yang masih memegang erat tangan Daia.
Jantung Daia berpacu lebih cepat setelah mendengar panggilan Kelvan. Ia menatap mata lelaki yang kini juga sedang menatapnya.
Entah karena dorongan apa, jarak keduanya semakin dekat. Seakan ada sesuatu yang saling menarik mereka untuk bersatu.
"Cup!"
Mata Daia membulat sempurna begitu bibir Kelvan berhasil menempel di bibirnya. Ini adalah kali pertama Daia merasakan hal ini.
Daia semakin dibuat tak karuan begitu Kelvan mulai menciumnya. Tidak, ini bukan hanya sekedar kecupan, tapi lebih dari itu.
Entah sadar atau tidak, Daia ikut menikmati ciuman panas itu. Bahkan kini ia sudah berada di pangkuan Kelvan.
Setelah hampir satu menit berciuman, Daia segera mendorong pelan dada Kelvan agar lelaki itu melepaskan ciumannya.
Kelvan mengernyitkan dahinya. "Kenapa Dai?" tanya Kelvan. Jujur ia sangat khawatir, apa ia sudah melakukan kesalahan?
"Enggak, gue cuma nggak bisa nafas tadi!" jawab Daia sambil menggaruk tengkuknya.
Kelvan tersenyum kecil, kemudian kembali menyambar bibir Daia. Keduanya kembali berciuman dengan perasaan yang berbunga.
Daia mengalungkan tangannya di leher Kelvan untuk memperdalam ciuman mereka, bahkan tangan Kelvan sudah betah meraba punggung Daia.
Tiba-tiba saja Kelvan bangkit berdiri sambil membawa Daia di gendongannya. Dengan bibir keduanya yang masih bersilaturahmi, Kelvan mulai berjalan menuju kamar.
Ia segera membaringkan tubuh Daia di atas ranjang, kemudian membelai lembut pipi gadis itu membuat gadis itu bersusah payah untuk mengontrol degup jantungnya.
"Boleh?" tanya Kelvan dengan suara baritonnya yang langsung mendapatkan anggukan kecil dari Daia.
Ujung bibir Kelvan terangkat, Daia telah menyetujuinya. Ia yakin malam ini akan menjadi malam paling membahagiakan bagi dirinya dan juga Daia.
Tangan Kelvan mulai menarik pelan kaos oversize yang Daia pakai. Tak henti-hentinya Daia berteriak dalam hati. Malam ini ia akan benar-benar menjadi seorang wanita dewasa.
"AAAAAAA INI BENERAN? OMG GILA! GUE SAMA KELVAN? OMG!" teriak Daia dalam hati.
Namun sedetik kemudian ia teringat akan sesuatu. Dengan cepat ia menahan tangan Kelvan, membuat Kelvan mengurungkan niatnya untuk membuka pakaian Daia.
"Kenapa Dai?" tanya Kelvan bingung. Apa yang sedang Daia lakukan sekarang?
Daia menghela nafas panjang, kemudian mengacak-acak rambutnya frustasi. Ia menatap Kelvan dengan tatapan bersalah.
"Van sorry," ucap Daia setengah berbisik. Sungguh, ia benar-benar merasa bersalah.
"Kenapa Dai? Kenapa lo minta maaf?" tanya Kelvan yang semakin bingung.
"Apa lo belom siap Dai? Kalo gitu gue bisa nunggu sampe lo si--"
"Bukan itu Kelvan!" potong Daia dengan cepat.
"Gue siap-siap aja kok! Tapi Van, gue baru inget," ucap Daia.
"Inget apa?"
"Gue lagi dapet!" jawab Daia dengan raut wajah bersalah. Ia benar-benar lupa kalau ia sedang dapet.
Kelvan segera menjauh dari Daia. Ia duduk di sisi ranjang seraya mengusap wajahnya gusar. Ia juga lupa tentang hal itu. Padahal seharusnya ia tahu jika Daia sedang datang bulan.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Manja Husband
RomanceSequel My Cute Little Wife Ketika celetukan lelaki manja bernama Kelvan membuat ia dan babunya berakhir di pelaminan. "Ekhem, jadi bagaimana Kelvan tentang tawaran Kakek waktu itu? Kamu mau ikut ke Jerman sama Kakek? Mengurus perusahaan Kakek yang a...
