Malam ini meja makan dipenuhi oleh suara gesekan sendok dan garpu. Keluarga Ananda tengah makan malam bersama, bahkan Daia dan Lisa juga ikut makan di sini.
"Tambah lagi Kelvan, makannya," ujar Kelly.
"Kelvan kenyang Oma," tolak Kelvan sambil menunjukan senyum konyolnya. Sedangkan Kelly hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tumben sekali anak Ayah tidak disuapi oleh Daia atau Bunda?" tanya Nevan menyindir Kelvan.
Kelvan segera menatap ayahnya sambil menghela nafas panjang. "Ayah, khusus hari ini, Kelvan mau makan sendiri. Kasian Daia sama Bunda kalau harus nyuapin Kelvan setiap hari," jawab Kelvan yang sebenarnya adalah pencitraan.
"Gitu dong cucu Kakek. Kamu sudah besar ya Kelvan," ujar Vino sambil tersenyum.
"Karena kamu sudah besar, bagaimana jika kamu meneruskan bisnis Kakek di Jerman? Kamu bisa ikut Kakek ke Jerman nanti dan menyelesaikan kuliah kamu di sana. Setelah lulus, kamu bisa mengambil alih perusahaan Kakek," sambungnya yang langsung membuat seisi ruangan terdiam.
Indy menatap suaminya dengan tatapan khawatir, seakan kurang setuju dengan keinginan Vino. Ia tak ingin jika Kelvan berada jauh beribu-ribu kilo meter dari sisinya.
Nevan hanya mengusap-usap punggung Indy mencoba untuk menenangkannya. Sebenarnya ia sudah tahu tentang rencana Vino yang ingin membawa Kelvan ke Jerman, dan menurutnya ini adalah hal yang baik untuk Kelvan.
Tak hanya Indy, Daia dan Kelvan tak kalah terkejutnya setelah mendengar tawaran Vino.
Sungguh, Kelvan sama sekali tak berminat untuk pergi ke Jerman ataupun mengambil alih perusahaan kakeknya. Ia sangat tak tertarik dengan bisnis. Maka dari itu ia juga kuliah di jurusan arsitektur bersama dengan Daia.
"Kakek, Kelvan-"
"Kamu bisa memikirkannya terlebih dahulu. Kalau kamu sudah siap, kamu bisa mengabari Kakek, Kelvan."
•°•
Kelvan terus melamun di mejanya sejak pagi. Daia yang duduk di sebelahnya cukup bingung dan khawatir karena majikannya yang biasanya sangat super aktif menjadi murung seperti ini.
Tanpa Daia sadari, ia berpikir jika ia lebih menyukai Kelvan yang menyuruhnya untuk melakukan ini-itu ketimbang Kelvan yang hanya diam seperti ini.
Bahkan sampai pelajaran berakhir, Kelvan masih setia melamun dan hal itu sangat menggangu Daia, karena aura di sekitar mereka ikut menjadi suram.
Daia mengerti, Kelvan menjadi seperti ini karena tawaran Vino tadi malam yang mengajak Kelvan untuk mengurus bisnis Vino di Jerman. Daia sangat tahu jika Kelvan sangat ingin menolak tawaran itu.
"Van, ngantin nggak lo?" tanya Daia sambil menoel pelan lengan Kelvan.
Kelvan yang ditoel malah langsung menenggelamkan wajahnya di atas meja. "Gue nggak laper, lo aja gih sana yang ke kantin. Tadi pagi kan lo belom sarapan Dai," jawab Kelvan yang lagi-lagi membuat Daia bingung.
"Tumben banget nih anak perhatian sama gue, kayaknya dia emang lagi ketempelan deh," batin Daia sambil menatap Kelvan dengan tatapan menyelidik.
"Ya udah, gue ke kantin dulu ya, kalo lo tiba-tiba mau makanan, chat gue aja. Nanti gue bawain," ujar Daia sebelum ia meninggalkan kelas.
Kini Daia sudah berada di kantin. Ia menatap bakso di hadapannya sambil tersenyum lebar. Kuah bakso yang pedas seperti sudah berbisik kepada Daia seperti meminta agar segera dicicipi.
Ketika Daia hendak memasukkan sesendok kuah bakso ke dalam mulutnya, tiba-tiba seseorang memanggilnya, membuat Daia membuang nafas kasar karena kesal.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Manja Husband
RomanceSequel My Cute Little Wife Ketika celetukan lelaki manja bernama Kelvan membuat ia dan babunya berakhir di pelaminan. "Ekhem, jadi bagaimana Kelvan tentang tawaran Kakek waktu itu? Kamu mau ikut ke Jerman sama Kakek? Mengurus perusahaan Kakek yang a...
