"Kalo gue nggak mau, gimana?" tanya Kelvan dengan wajah konyolnya yang langsung membuat Daia mengelus dada.
"Van, gue serius! Gue--"
"Gue nggak setuju sama keputusan lo tadi. Karena kita emang nggak akan pernah saling suka, Daia. Hahaha lo pikir gue bakal ngelewatin batas itu?" Kelvan tertawa terbahak-bahak, kemudian melanjutkan ucapannya.
"Sebelum nikah sama sekarang, apa bedanya? Apa gue berubah jadi power ranger? Tiba-tiba gue tertarik sama lo dan jatuh cinta, gitu? Enggak kan? Itu maksud gue Dai. Lagi pula gue nggak mungkin bakal suka sama cewek modelan lo!" sambung Kelvan sambil terus tertawa.
Daia tertegun. Entah mengapa ia sedikit tak suka dengan ucapan Kelvan. Ucapan lelaki itu barusan sedikit melukai hatinya. Entah lah, mungkin Daia hanya sedang baperan, sebentar lagi memang jadwal tamu bulanannya datang.
"Ya udah. Gue harap lo bisa pegang ucapan lo," ucap Daia dengan nada datar, kemudian berjalan ke kamar mandi.
Entah lah, setelah mendengar ucapan Kelvan, Daia tak bisa mengkontrol ekspresi wajahnya. Ekspresinya kini benar-benar terlihat sangat kesal.
"Dai, gue duluan yang mandi!" ucap Kelvan tak terima.
"Gue dulu," jawab Daia dengan penuh penekanan. Ditambah dengan ekspresi dingin di wajah gadis itu, membuat Kelvan sedikit ngeri dan akhirnya mengalah.
"Gue yakin sekarang bukan tanggalnya dia PMS," batin Kelvan sambil bergidik ngeri.
•°•
Setelah makan malam, kini Daia sedang berada di kamar sambil melakukan pekerjaannya, yaitu menyetrika pakaian Kelvan, majikannya. Mood-nya memang sudah jauh lebih baik setelah cacing-cacing di perutnya mendapatkan jatah.
Daia terus menghela nafas panjang ketika melihat tumpukan baju Kelvan yang tak ada habisnya. Kelvan memang sedikit boros dalam hal berpakaian.
Ketika ia merasakan ada sedikit keringat saja, itu akan sangat mengganggunya, sampai lelaki itu bisa berganti lebih dari 4 setel pakaian dalam sehari. Jadi tak heran jika sekarang tumpukan baju sangat tinggi setinggi imajinasi Daia ketika halu.
"Dai, remot TV mana?" tanya Kelvan yang sedang bersantai di atas ranjang seraya mengemil coklat kinderjoy kesukaannya.
"Di sofa kayaknya," jawab Daia tanpa menoleh sedikit pun ke arah Kelvan.
"Nggak ada Dai! Cepet cariin! Acara kesukaan gue udah mau mulai nih!" ujar Kelvan tak sabaran.
Tak ingin berdebat, Daia segera bangkit berdiri, kemudian berjalan ke arah sofa, tanpa harus mencari lama, ia sudah menemukan remot TV yang Kelvan cari.
"Nih, mata lo ke mana? Digadein?" sindir Daia sambil menatap sinis majikannya itu.
Kelvan tak membalas sindiran Daia. Sekarang yang lebih penting adalah ia harus mengganti channel televisi. Senyumnya langsung mengembang begitu kartun kesukaan sudah mulai. Yah, apa lagi kalau bukan Upin & Ipin?
Daia hanya bisa menghela nafas panjang kemudian melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda. Ketika ia sudah mulai asik dengan dunianya, tiba-tiba saja si manja Kelvan kembali bersuara.
"Dai gue mau snack dong sama minuman dingin," pinta Kelvan tanpa menoleh sedikit pun ke arah Daia.
"Ambil sendiri," ucap Daia malas.
"Kaki gue lemes Dai abis ngejar kucing di taman komplek tadi, abisnya gemoy banget kek gue," ucap Kelvan beralasan.
Daia segera bangkit berdiri, kemudian berjalan keluar kamar Kelvan. Lagi-lagi permintaan tuan muda tak bisa ia tolak. Daia keluar sambil sedikit membanting pintu kamar karena kesal.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Manja Husband
RomanceSequel My Cute Little Wife Ketika celetukan lelaki manja bernama Kelvan membuat ia dan babunya berakhir di pelaminan. "Ekhem, jadi bagaimana Kelvan tentang tawaran Kakek waktu itu? Kamu mau ikut ke Jerman sama Kakek? Mengurus perusahaan Kakek yang a...
