Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

PART 58- Sahabat

4.2K 373 161
                                        

Malamnya setelah Kelvan dan Daia selesai makan malam, keduanya segera naik ke lantai atas, lebih tepatnya ke dalam kamar mereka. Mereka tengah melakukan quality time yang cukup jarang mereka lakukan.

Di sofa yang ada di kamar, Kelvan meletakkan kepalanya di pangkuan Daia yang juga tengah duduk di atas sofa. Wanita itu mengusap-usap rambut suaminya sedangkan Kelvan asik mengelus-elus perut Daia.

"Capek nggak Dai?" tanya Kelvan sambil menatap Daia.

Kelvan tahu, hari-hari yang Daia lalui tidaklah mudah. Kini wanita itu harus beraktifitas dengan membawa bayi yang ada di kandungannya. Bukan hanya satu, melainkan dua bayi.

Daia yang mendapat pertanyaan itu langsung terkekeh. Jarang sekali Kelvan menanyakan hal se-deep ini padanya. Seakan-akan ia sudah menjadi suami yang baik alih-alih suami yang manja seperti biasanya.

"Kalo ditanya capek, of course capek sih Van. Aku yang biasanya bawa badan sendiri ke mana-mana, sekarang jadi bertiga. Aku juga capek sama mood aku yang berubah-ubah. Padahal dulu nggak pernah kayak gini. Capek juga kalo harus nahan mual sama pegal-pegal di badan aku. But it's okay, Van. Asal ada kamu, capek aku ilang kok! Makannya jangan lembur terus!" jawab Daia yang diakhiri dengan kekehan.

Bukannya ikut tertawa, Kelvan hanya tersenyum kecil, kemudian memeluk pinggang Daia sambil mengecupi perut wanita itu.

"Anak-anak Daddy jangan nakal ya di sana! Jangan ngerepotin Mommy kalian!" ujar Kelvan seolah-olah sedang berbicara dengan anak-anaknya yang berada di dalam perut Daia.

"Serius panggilannya Daddy sama Mommy? Kita di Bandung lho Van bukan di USA!" tanya Daia yang sedikit cringe dengan panggilan itu.

"Eits jangan salah Dai! Panggilan ini lagi trend, kita harus ngikutin trend! Pokoknya aku mau anak-anak kita manggil kamu Mommy, terus manggil aku Daddy! Mantap! Keren banget kan?" tanya Kelvan yang langsung dibalas dengan anggukan terpaksa dari Daia.

"Iya Van, iya!" jawab Daia.

Kelvan segera merubah posisinya menjadi duduk di sebelah Daia, kemudian menatap lekat wanita itu dari atas sampai bawah, membuat Daia mengaktifkan sinyal siaganya.

"Kenapa Van?" tanya Daia sambil mengernyitkan dahinya.

"Kok kamu makin gemoy ya Dai," ucap Kelvan dengan senyum konyolnya, membuat Daia bergidik ngeri seketika.

"Apa sih! Jangan ngadi-ngadi!"

"Sumpah lho Dai! Kamu makin gemoy banget, mana perutnya buncit gitu, jadi pengen gigit!" ujar Kelvan sambil terus mendekat ke arah Daia.

"Au ah Van aku ngantuk!" ucap Daia seraya bangkit berdiri, kemudian berjalan ke arah ranjang dan berbaring di atasnya.

Kelvan segera menghampiri Daia dan ikut berbaring di sebelah wanita itu. Ia langsung memeluk wanitanya dengan sayang, kemudian mengecup kening Daia.

"Kamu sehat-sehat terus ya Dai," ucapnya tiba-tiba, membuat Daia mendongak, menatap mata pria itu dengan tatapan bingung. Jarang sekali pria manja yang satu ini berbicara serius seperti ini, padahal biasanya ia selalu bercanda dan mengatakan hal yang tak penting.

"Pokoknya kamu harus sehat-sehat terus Dai. Kamu sama anak-anak kita nggak boleh sakit! Aku bakal cari uang yang banyak buat nanti kita jalan-jalan sekeluarga. Kamu mau ke mana? Kita keliling Indonesia mau nggak?" tanya Kelvan yang malah membuat Daia tertawa, kemudian membalas pelukan Kelvan.

"Gemes banget sih Van?" ucap Daia dengan nada greget.

"Kamu baru tau Dai? Selain ganteng, hot dan mempesonanya, aku juga ada gemes-gemesnya!" ujar Kelvan yang kini sifat narsisme-nya mulai meronta-ronta.

My Manja HusbandCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang