BAB 44

6.3K 510 34
                                        

Sudah berapa lama Dirga tidak mengunjungi tempat yang satu ini, ruangan putih dengan perabotan warna hitam yang mendominasi, juga jangan lupakan keberadaan meja gambar besar di sudut sana yang diatasnya terdapat scetch sebuah gedung pameran yang belum selesai digarap seluruhnya.

Sebenarnya itu adalah salah Dirga yang  tiba-tiba datang ke tempat Rendi, dan membuat si arsitek itu menghentikan aktivitasnya.

Ya, Dirga pikir Rendi sudah selesai dengan pekerjaannya, mengingat sekarang sudah dini hari. Siapa orang yang masih sibuk bekerja pada pukul satu pagi, Hmm?

"Jangan sentuh apapun," peringatan Rendi setelah kembali masuk kedalam ruangannya.

"Hanya melihat, calm."

"Sebelumnya gue minta maaf karena datang di waktu yang kurang tepat." Lanjut Dirga yang kini mendudukkan tubuhnya pada kursi di seberang Rendi.

"Nggak masalah. Gue memang akan melanjutkan itu besok di kantor."

"Besok subuh-subuh maksud lo?" Ujar Dirga yang tau betul kebiasaan dari seorang Rendi

Mengerjakan pekerjaannya sampai larut malam, tidur satu, dua atau tiga jam, dan subuhnya akan kembali bekerja. Ia akan datang lebih awal dari para pegawainya. Sampai para pegawainya mengira kalau Rendi itu sebenarnya tidak pulang kerumahnya.

Dirga kadang terheran, sebenarnya Rendi itu manusia atau robot.

"Tidur lama membuat kepala gue pusing."

"Karena siklus tidur lo memang sudah kacau sejak kuliah, Bang."

Rendi mendengus namun mengangguk juga pada akhirnya. Kalimat Dirga berhasil membawa ingatannya bernostalgia dimasa dimana ia masih berkuliah kala itu. Struggle nya berkuliah di jurusan arsitektur, bisa tidur lebih dari lima jam saja rasanya sudah seperti merasakan surga dunia. Tidur cukup? Rendi sampai lupa seperti apa rasanya.

"Bukankah sangat tipikal lelaki idaman? Gue akan selalu siap kapan pun saat dibutuhkan. Gue online 24 jam. Ketika perempuan meminta gue untuk  membangunkannya lebih awal, I'll wake her up, cause I don't sleep."

"Sounds great right?"

Dirga mengangguk, "Tapi lo bisa mati muda karena kebiasaan buruk lo itu." 

Rendi terkekeh geli, "Hoi! Seperti lo hidup sehat aja. Lo pikir gue nggak tau apa yang sering Rea keluhkan tentang lo."

Dirga meringis, sempat melupakan fakta kalau Rendi yang cukup dekat dengan adiknya itu. Bahkan bisa dibilang Audrea lebih dekat dengan Rendi daripada dengannya. Karena selama Rea berkuliah, Dirga memang meminta bantuan Rendi untuk menggantikan nya menjaga Rea, yang saat itu dia sedang sibuk-sibuknya di Perancis dan setelahnya menetap di Boston.

"Gue baru akan memaklumi kalau Elang atau Rea yang ngomong."

"Oh, iya. By the way, ada apa lo mengunjungi gue pukul satu pagi begini?"

Dirga memejamkan matanya sejenak, sebelum kembali menjawab pertanyaan dari Rendi, "Gue insomnia,  berkendara malam, nggak tau harus kemana di jam segini. Dan yang gue tau hanya lo yang masih ngalong."

"Ya hitung-hitung mempererat tali silaturahmi. Gue sudah lama nggak berkunjung."

"Orang waras mana yang berkunjung di pagi buta seperti ini? Untung yang lo datangi itu gue."

Dirga memang tengah tertawa, namun Rendi tau itu hanya sandiwara.

Rendi memeperhatikam Dirga yang bersandar dengan mata terpejam dihadapannya.

Oh La La LaaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang