BAB 67

5.5K 444 41
                                        

Tok..tok..tok!

"Na, aku masuk, boleh?" Tanya Dirga berdiri diambang pintu kamar yang tidak tertutup, melihat kekasihnya itu tengah menidurkan Rafa yang tertidur usai lelah bermain.

"Masuk, aja. Tapi jangan berisik, Rafa udah tidur." Ujar Yoana setelah menyelimuti dan menaikkan suhu AC dalam kamarnya agar Rafa tidak kedinginan dan bisa tidur dengan nyenyak.

"He is so handsome and cute." Sambungnya setelah Dirga masuk lalu memeluknya dari belakang dan ikut memperhatikan Rafa yang sedang tidur.

"Yes, he is." Balas Dirga lalu memejamkan matanya sambil terus mendekap tubuh Yoana.

Dirga menghela nafasnya, Yoana adalah rumahnya, tempatnya untuk pulang. Ia akan selalu merasa nyaman saat berada di dekatnya, dapat memeluk dan menghirup aroma lembut dari perpaduan lavender dan manis dari vanilla yang begitu menangkan adalah hal favoritnya, tak peduli selelah apapun dirinya, hanya dengan melihat keberadaan dan deket dengan Yoana sudah dapat mengembalikan segala energinya yang terkuras.

Sungguh ia ingin waktu berhenti sejenak, agar ia bisa memeluk Yoana seperti ini sedikit lebih lama.

"Asal kamu tahu,"

Ini perasaan Yoana saja atau memang akhir - akhir ini Dirga memang sering bersikap manja padanya? Kekasihnya itu sangat suka mengikutinya, memeluknya, mencium keningnya, intinya akhir - akhir ini Dirga sangatlah manja.

Seperti sekarang ini, lihat saja kelakuannya.

"Sikap mu sekarang sangat berbanding terbalik dengan penilaian ku di awal kita bertemu." Ujar Yoana sambil mengusap kepala Dirga yang bertumpu pada pundaknya.

Dirga membuka matanya, "Berbanding terbalik? Oh, ya..ya, aku paham."

Dirga terkekeh disela anggukan kepala, "Ya, mau bagaimana lagi. Bertemu di kelab malam, stereotip nya memang akan menjurus ke hal yang negatif."

"Aku nggak pernah menyangka kalau kamu ternyata punya sisi manja seperti ini."

Dirga kembali terkekeh menanggapi pernyataan dari Yoana, "Aku yang sebenarnya memang seperti ini." Ujarnya sebelum menegakkan tubuhnya.

"Dulu aku pikir kamu laki - laki yang dingin, apalagi kalau..." Yoana menggerakkan kedua jari telunjuknya untuk membuat sebuah senyuman di wajah Dirga, "...nggak senyum. Muka mu itu kalau diam aja kelihatan galak, judes."

"Tapi kalau senyum seperti ini, penilaian awal ku nggak berguna." Sambung Yoana.

Dirga tersenyum semakin lebar, "Nggak juga,"

"Iya, kamu nggak sadar itu?" Tanya Yoana yang dibalas gelengan oleh Dirga.

"Ini... bekas luka apa?" Tanya Yoana saat menyadari sebuah bekas luka pada pipi Dirga.

Dirga menautkan kedua alisnya sesaat sebelum menjawab, "Oh, itu waktu masih kecil. Sepertinya kena cakar Rea."

"Kok bisa?"

"Aku kurang ingat kejadiannya dulu seperti apa. Yang aku ingat hanya sebatas itu."

Yoana mengangguk angguk samar, dalam diamnya Yoana mensyukuri Audrea yang telah memberikan bekas luka di wajah kakaknya ini. Dengan bekas luka memanjang pada pipinya itu Dirga terlihat lebih manusiawi.

"Kamu mau istirahat atau mau mandi dulu?"

Dirga bergumam sejenak, "Istirahat sebentar,deh. Habis ini mau kebawah ambil baju ganti di mobil." Balas Dirga. Perihal baju ganti, Dirga memang selalu membawanya di mobil. Mengingat pekerjaannya yang mengharuskan dirinya untuk siap pergi kemana dan kapanpun ia dibutuhkan.

Oh La La LaaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang