"Happy birthday, uncle Aga!!!! Lafa udah beliin uncle kado loh!! Nanti malam jangan lupa kerumah lafa ya, om! Uncle, kan sudah janji."
"Wah!! Ternyata kamu tau hari ini om ulang tahun? Uncle aja lupa. Kalau kamu nggak telpon, uncle pasti nggak akan ingat." Dirga tertawa mendengar perkataan gemas Rafa dari sambungan telepon, Dirga menyandarkan punggung lelahnya pada kursi kerja. Menggerakkannya samar, sambil terus menyimak ucapan selamat ulang tahun juga doa yang Rafa berikan padanya.
"Jangan lupa nanti kerumahnya lafa ya, uncle. Kalau nggak kadonya buat lafa aja!"
"Iy—ehm...lihat nanti ya, Rafa?" Saat akan mengiyakan Rafa, Dirga seketika mengingat jika Minggu lalu dia sudah lebih dulu berjanji untuk menemui Yoana setelah rampung dengan urusan pekerjaannya. Dan siapa yang menyangka kalau ternyata bertepatan dengan hari ulang tahunnya.
Fyi, hari ulang tahun Dirga dan papanya hanya berjarak sembilan hari saja dibulan yang sama.
"Nanti uncle usahakan. Tapi paling waktu uncle sampai di rumahnya Rafa, Rafa nya udah tidur. Gimana dong?"
"Rafa mau nungguin,uncle."
Dirga tersenyum, "Rafa nggak boleh tidur larut malam, katanya mau tinggi kaya om Aga? Kalau mau tinggi harus tidur yang cukup dan jangan lupa minum susu."
"Oh...begitu ya?"
Dirga mengangguk walaupun sebenarnya percuma karena Rafa tidak akan melihatnya, "Iya."
"Kalau begitu, nanti biar mommy Lafa aja yang kasih kadonya buat Om."
"Uncle, telponnya Lafa matikan ya? Lafa mau main. Bye bye, uncle!"
"Bye bye, Rafa!" Balas Dirga lalu sesaat kemudian sambungan telepon terputus.
"Widih! Udah seperti papa muda aja lo. Udah cocok tau, Dir!"
Dirga yang awalnya terkejut mendapat tepukan di bahunya kini memutar kursinya hingga menghadap sepenuhnya pada John, si pelaku yang mengejutkannya.
Dirga terkekeh kecil, "Itu sindiran atau pujian?"
"Tergantung lo menganggap nya apa." Kini giliran John yang tertawa.
"Gue tadi nggak sengaja ikut dengar, ternyata hari ini lo ulang tahun ya? Udah genap kepala tiga nih?"
Dirga mengangguk, "Gue udah nggak muda lagi ternyata." Ujar Dirga dengan wajah pura-pura sedihnya itu.
John yang tidak kuat melihat juga geli dengan ekspresi Dirga itu melempar bolpoin yang berada di saku kemejanya pada Dirga, "Lo mana bisa tua sih?! Sialan! Malahan makin berumur aura lo makin jadi. Pasang susuk kan lo? Ngaku aja!"
Dirga menaruh bolpoin yang berhasil ia tangkap itu diatas mejanya, "Ya kali."
"Gue mau ambil data data proyek kemarin sebelum lo balik ke Boston. Udah jadi kan?"
Dirga seketika merubah raut wajahnya, "Harus sekarang?"
John menaikkan sebelah alisnya, "Kenapa? Belum yakin dengan keputusan lo?" Yang Dirga balas dengan senyum tipisnya.
"Proyek di Boston sangat membutuhkan lo, Dir. Ini proyek besar, dan masalahnya hanya lo yang bisa diandalkan dalam proyek ini."
Dirga mengangguk, sangat mengerti itu. Tapi lagi-lagi ada rasa berat untuk meninggalkan Jakarta dalam waktu dekat ini.
Dengan helaan nafas panjangnya Dirga kemudian mengangguk singkat, "Lusa, gue kasih ke lo."
***
Aroma wangi dari kue yang dibuatnya menguar keseluruh penjuru apartemennya. Pertanda bahwa kue itu sudah masak dan siap untuk dikeluarkan dari dalam oven.
KAMU SEDANG MEMBACA
Oh La La Laa
Fiksi UmumGoddess series #1 ------------------------------ Please allow me Into your reality I'll approach you, so hold on to me.. Written in bahasa Start : Januari /26 /2021 End : Desember/14/2022
