"Jadi yang Adrian katakan itu benar?" Tuntut Yoana. Menatap penuh selidik pada Dirga yang kini sedang mengambil minuman dingin dari dalam kulkas. Usai selesai menata piring yang sudah selesai dicuci oleh Yoana.
Laki-laki itu membuka kaleng soda di tangannya, tidak kunjung menjawab pertanyaan yang Yoana lontarkan. Membuat perempuan yang sedang menyantap potongan buah pir itu berdecak, membalas tatapan jahil Dirga yang kini malah terkekeh geli.
"Iya."
Dirga ikut bergabung dengan Yoana yang tengah duduk di sofa, jemari perempuan itu bergerak lincah menggonta-ganti channel TV, mencari acara yang bagus untuk ditonton.
"Jadi totalnya ada berapa?" Tanya Yoana, penasaran dengan jumlah koleksi mobil yang Dirga miliki.
"Tiga mobil dan satu motor."
Yoana sudah pernah melihat dua diantaranya. Tapi belum dengan koleksi mobil yang satunya dan juga motor. Ia tidak pernah tau kalau ternyata Dirga juga suka mengendarai motor.
"Yang satunya kamu taruh dimana?"
"Dirumah mama."
Yoana mengangguk, dia jadi membayangkan garasi di rumah Dirga pasti serupa showroom mobil. Dirga saja punya tiga mobil, lalu nanti ada milik mamanya, juga mobil milik papanya. Dan bisa saja nanti akan semakin bertambah kalau Audrea juga memutuskan untuk membeli mobil. Atau jika Dirga yang ingin menambah koleksi.
"Tapi mungkin nanti yang Lamborghini mau aku jual," ujar Dirga tiba-tiba.
Audi, Range Rover dan Lamborghini, ya?
"Kenapa?"
Dirga meminta Yoana untuk mendekat kearah nya. Membawa tubuh perempuan itu duduk sembari bersandar di dadanya.
"Daripada hanya menganggur di garasi, aku juga jarang pakai. Jadi mending di jual. Lumayan bisa jadi modal untuk buka bisnis baru?"
Yoana sedikit mendongakkan kepalanya, menatap Dirga dari bawah. Yang sontak saja membuat matanya berhadapan dengan rahang tegas milik laki-laki itu.
"Mau bisnis apa?"
Dirga menunduk, "Kamu mau aku bisnis apa?"
"Kok aku?"
"Anggap untuk investasi bersama. Jadi?"
Yoana mengerutkan keningnya, ia tidak tau dan bahkan tidak pernah berpikiran untuk membangun sebuah bisnis. Jadi saat Dirga tiba-tiba saja menanyakan tentang hal itu, ia tidak tau harus menjawab apa.
"Aku nggak terlalu pintar berbisnis, tapi mungkin membeli properti, rumah mungkin?" Jawab Yoana ragu.
Dirga manggut-manggut, "Boleh, mau rumah yang seperti apa?"
Yoana mengerjap. Ini Dirga serius menanyakan hal ini padanya?
"Kamu mau beli rumah?" Tanya Yoana memastikan.
"Nggak, membangun lebih tepatnya."
Yoana membulatkan matanya, "Oh, ya?"
"Hmm, sedang membahas desain dengan Rendi."
Yoana sudah cukup pusing mendengar fakta bahwa Dirga memiliki cukup banyak bisnis dibelakang pekerjaannya sebagai seorang konsultan bisnis, pemilik saham dibeberapa perusahaan besar, koleksi mobilnya, hobi travelingnya, memiliki beberapa unit apartemen yang tidak hanya ada di Jakarta, tapi juga di luar negeri, kini laki-laki itu sedang dalam proses membangun sebuah rumah? Yang berbarengan dengan laki-laki itu yang juga dalam tahap mengembangkan start up.
Well, Yoana memijat pelipisnya.
"Bagaimana bisa kamu membagi waktu selama ini, Ga?"
Dirga terkekeh, "Ya, tinggal di bagi. Toh, nggak semuanya perlu aku kontrol sepanjang waktu. Aku juga suka, dan fine fine aja menjalankannya selama ini."
KAMU SEDANG MEMBACA
Oh La La Laa
Fiksi UmumGoddess series #1 ------------------------------ Please allow me Into your reality I'll approach you, so hold on to me.. Written in bahasa Start : Januari /26 /2021 End : Desember/14/2022
