Day 2 : Mimpi Buruk

523 12 0
                                        

"Maaf."

"Maafin, abang."

Kinan mendekat. Berjongkok di depan Dinar, mengelus kepalanya lembut.

"Kinan maafin, kok."

Kinan berdiri, mengambil baju di lemari. Dia mengambil kaos warna putih, lalu memakaikan pada Dinar.

"Jangan pergi!" Cowok itu memegang tangan Kinan erat. Mulutnya yang sedikit terbuka bergetar, begitupun alisnya yang sesekali berkedut. Wajahnya pucat pasi.

"Gak mau."

"Jangan!!" teriak Dinar.

"Ga usah teriak-teriak juga kali, bang," sahut Kinan. Dia merangkak ke atas kasur, setelah melepas pegangan Dinar di tangannya. Merebahkan tubuhnya di samping sang kakak. Menarik selimut, menutupi sampai sebatas perut. Memiringkan tubuh ke kanan, menghadap Dinar. Tangan kirinya bergerak mengelap keringat di dahi Dinar. Mengelus kepalanya penuh sayang.

"Maaf..." Suara Dinar memelan.

"Gue yang salah!"

"Maaf."

"Tunggu." Dinar terus meracau. Kinan mendengarkan, sesekali dia bergumam menjawab.

"Jangan, jangan pergi!" Dinar membalikkan badannya, berhadapan dengan Kinan. Tangannya memeluk Kinan kuat.

"Sssttt! Gak akan, bang," jawab Kinan, walau tidak didengar oleh lawan bicaranya itu.

Dinar semakin gelisah, cengkramannya menguat. Tubuhnya semakin meringkuk. Kinan tidak tega.

Dia sepertinya tahu apa yang menjadi bunga tidur kakaknya itu.

Kinan menggenggam tangan Dinar yang melingkar di perutnya erat, menyalurkan kehangatan, menenangkannya, dan berharap bisa tersampaikan kepada kakaknya itu.

Menatap Dinar serius. Kinan bertanya heran, "Sejak kapan, abang gue jadi cute gini?"

Padahal dulu seingat Kinan kakaknya ini tidak ada gantengnya sama sekali, apalagi wajahnya yang lucu saat tidur. Apa jangan-jangan dia yang rabun?

Perlahan-lahan Dinar mulai tenang. Cengkramannya yang kuat mulai mengendur. Wajah yang tadinya tampak ketakutan dan gelisah mulai memudar. Seluruh tubuhnya mulai melemas. Dia sudah tidak mimpi buruk lagi sepertinya.

"Akhirnya," batin Kinan.

"Capek," keluhan datar itu keluar dari mulut Kinan.

Kinan ikut memeluk Dinar, mendusel-duselkan kepalanya ke dada bidang milik kakaknya, mencari posisi nyaman. Setelah itu, dia terlelap dan pergi ke alam mimpi.

🍪🍪

Membuka mata perlahan. Mengerjabkan beberapa kali, menyesuaikan cahaya yang memasuki retina matanya. Mengucek mata, lalu mata itu terbuka sepenuhnya. Mengambil HP di nakas samping tempat tidur.

Sekarang jam 05.00 a.m. Masih berbaring di tempat tidur, enggan untuk bangun. Melirik badannya sendiri, menyernyit heran. Semalam dia tidak memakai baju, tapi... kenapa sekarang dia pakai baju?

Dia menoleh ke samping. Pelakunya sedang tertidur dengan posisi terbalik. Kepalanya di bawah sedangkan kakinya di atas.

Dinar menghela napas. Dia beringsut duduk.

Menatap Kinan tidak habis pikir. Rambutnya berantakan, dahinya sedikit benjol, sikunya ada bekas darah yang sudah kering.

Dia berpikir, apa yang terjadi semalam?

Ketika adiknya tidur dan posisinya tidak karuan karena banyak membuat gerakan, itu artinya dia kelelahan.

"Woahm..." Dinar menguap. Beranjak turun dari kasur, mengambil handuk lalu berjalan menuju kamar mandi. Ini hari Senin, jadi harus sekolah.

BrotherhoodCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang