Day 52 : Kala Kembali

53 2 0
                                        

Kinan masuk ke sebuah bangunan penuh mainan, tempat yang dinamai game center itu begitu ramai oleh kalangan anak-anak sampai dewasa, tapi kebanyakan diisi oleh para remaja.

Kinan tersenyum puas di balik masker hitamnya. Manik coklat indah tertutupi kacamata hitam yang bertengger apik itu menelisik ke sekitar. Menghiraukan pemuda jangkung yang mengikutinya sedari tadi dengan sangat tertekan. Dia ingin mengajak bicara Kinan tetapi tidak berani, takut membuat suasana hati cewek itu bertambah buruk.

Dia bingung harus bagaimana. Ikut masuk tapi tidak mau menganggu adiknya bermain, kalau di luar dia pasti terlihat seperti orang hilang. Ditengah kebingungannya, akhirnya cowok itu memilih menunggu di luar, siapa tahu ada cewek yang kecantol padanya.

Kinan berkeliaran terlebih dahulu sebelum mulai bermain, mencoba mencari permainan yang mungkin baru setelah setahun tidak berkunjung. Kakinya melangkah membawanya ke arah mesin capit yang di dalamnya berisi kemasan handphone, entah di dalamnya berisi HP sungguhan atau zonk. Kinan mulai memainkannya.

Melihat-lihat terlebih dahulu posisi di dalam, memasukkan koin yang sudah ditukar, kemudian mulai menggerakkan tuasnya. Mencapit satu wadah dan menggesernya ke lubang, tetapi sudah jatuh di pinggiran padahal itu hampir saja. Kinan mengambil kemasan lain, menggesernya lagi dan menaruhnya di samping wadah pertama, Kinan mengambil satu lagi wadah yang menurutnya mudah ditangkap dan di arahkannya ke lubang, dijatuhkannya di sana, wadah terakhir menyenggol pinggiran wadah pertama dan kedua yang membuat keduanya ikut jatuh. Dan ya... Kinan mendapatkan tiga kemasan handphone. Diambilnya tiga kemasan handphone itu, dia gerakkan satu persatu untuk memastikan isinya.

Tanpa di sadari Kinan sudah menjadi pusat perhatian. Cewek itu berjalan menghampiri salah satu pegawai di sana dan meminta plastik. Dia masukkan semua kemasan yang berisi HP semua itu ke kantong plastik. Saat akan kembali berjalan, ada yang menghampiri Kinan.

"Eum... maaf, kak," ucap seorang remaja perempuan.

Kinan mengangkat satu alisnya bertanya.

"Itu... Kakak, kan dapet tiga, boleh gak kalo aku minta satu? HP ku udah jelek soalnya." Tunjuk gadis itu pada kresek yang ditenteng Kinan.

Kinan menatap anak itu dari atas ke bawah, sampai matanya terhenti pada satu objek di salah satu tangan anak itu. Ponsel yang masih terlihat bagus bahkan harganya saja mahal. Kinan kembali menatap gadis itu.

"Ada yang lebih membutuhkan," ucap Kinan lalu pergi begitu saja.

"Tapi, kak. Aku juga butuh."

Kinan tidak menanggapi, dia terus berjalan sembari memilih permainan selanjutnya.

🍪🍪

Di dalam rumah besar itu Ragil mondar mandir bagai boomerang. Raut marah tapi juga khawatir terlukis. Teman-temannya dibuat jengah karenanya.

"Itu temen lo kenapa sih?" tanya salah seorang laki-laki teman Danu.

"Biasa lah, adeknya ilang ya gitu," jawab Adi.

"Si cewek yang itu?" tanya Danu.

"Hm." Adi mengangguk malas. "Diem ngapa, Gil? Capek gue liatnya. Lagian adek, kan sama Raja."

Ragil melotot tidak terima. "Dia habis operasi lo lupa?! Dia belom makan, dia juga belom minum vitaminnya."

Astaga... Ragil jadi lebih cemas mengingatnya. Tanpa sadar dia menutup mulutnya, tertekan.

Tangannya bergerak mengambil ponsel dan mendial nomor seseorang. Harusnya dia tadi lebih teliti melihat pakaian yang dipakai Kinan, cewek itu memakai jogger pants warna putih, atasan warna hitam, dan tas kecil. Jangan lupakan dia juga memakai sepatu! Saat akan menekan ikon telfon, sebuah mobil yang baru masuk mengalihkan perhatiannya. Dia bergegas keluar.

BrotherhoodCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang