Day 38 : Botol minum

73 1 0
                                        

"Jajan?"

"Mau es krim."

"Yang lain."

"Dua es krim."

"Nggak," telak Asta memotong Juna yang akan menjawab.

"Es krim."

"Panas. Nanti sakit," ucap Juna. Dia mengelus lembut pipi Kinan.

Juna tidak bisa untuk tidak berkomentar, "Adek gendutan."

"Salah kalian."

"Dih! nyalah-nyalahin," cibir Raja.

Kinan tidak menanggapi, dia menoleh tetapi tidak sepenuhnya karena terhalang oleh kepala Dio. Kemudian, dia memanggil, "Vano."

Vano yang tengah sibuk dengan game-nya, menjawab tanpa menoleh, "Ya?"

"Sini."

Cowok itu mengakhiri game di ponselnya dan memasukkan ponsel itu ke dalam saku celana. Menatap Kinan sembari berjalan mendekat.

"Bil, tukeran bisa?"

Nabila menatap Kinan dan mengangguk. Setelah itu, dia berdiri dan duduk di tempat Vano. Sedangkan, Vano duduk di tempat Nabila.

"Kenapa?"

"Gantian."

Dengan perlahan, Vano memindahkan kepala Dio ke pundaknya. Membenarkan posisi Dio sampai senyaman mungkin tanpa membangunkan sang empu.

Dirasa sudah pas, Kinan berganti memanggil Angga.

"Kenapa, Ki?"

"Adek lo."

Angga beranjak guna mengambil alih Leo, keponakannya. Setelah itu, dia kembali duduk di tempat semula.

"Bang."

"Hm?" balas Asta.

"Keluar."

"Makan?"

Kinan menggeleng. Sejujurnya, tubuhnya terasa sangat lemas, kepalanya bertambah pening. Mungkin diakibatkan dia terpapar terik matahari terlalu lama dan jangan lupakan dia adalah seorang introvert yang energinya akan cepat terkuras dikerumunan banyak orang.

"Yuk," ajak Juna.

Asta, Juna, Raja, dan Kinan berdiri. Berjalan menuju pintu keluar.

Asta dan Juna memperhatikan gerak-gerik Kinan yang aneh. Mereka sadar cewek itu sedang kenapa-kenapa.

Baru beberapa langkah, ketiga cowok itu dibuat terkejut ketika tubuh Kinan yang terkulai. Beruntung, Juna dengan sigap menangkap tubuh lemas cewek itu sebelum terjatuh.

Ternyata teman-teman Kinan juga melihat. Mereka sama-sama terkejutnya. Tiba-tiba Kinan akan terjatuh seperti itu padahal baru saja dia baik-baik saja.

"Adek ... adek kenapa?" tanya Raja khawatir.

Kinan menggeleng lagi. Alisnya berkerut dengan mata terpejam, berusaha menghalau pening dan suara dengingan di telinganya.

"Ayo, keluar!" ajak Juna dengan tidak sabaran.

Asta mengambil alih dan membawanya keluar dari bangku penonton mengikuti Juna. Demi apapun dia terlalu kaget sampai tidak bisa berpikir baik.

"Kinan kenapa lagi tuh? Perasaan sering banget sakit. Lemah banget gak sih? Jangan-jangan dia cuma caper. Pick me gitu?" tuduh Luna dengan entengnya.

Itu membuat yang lain menatapnya tidak percaya. Bisa-bisanya Luna mengatakan hal seperti itu.

Vano menatap tajam Luna dan berkata tegas, "Jaga bicara lo! Lo gak tau apa-apa soal dia. Hati-hati sama omongan lo soal dia atau gue jahit itu mulut."

BrotherhoodCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang