Day 48 : Insiden

61 2 0
                                        

Semua berawal ketika sebuah insiden kecelakaan yang menimpa orangtua Ragil dan adik kecilnya. Pamit untuk pergi ke negara dimana ayah Ragil lahir, USA. Dengan niat menuntaskan pekerjaan ayahnya yang berada di sana.

"Ragil... sayang, sini nak." panggil sang ibu. Wajahnya masih terlihat awet muda diumurnya yang menginjak sekitar 24 tahun itu. Masih cocok menjadi siswa SMA/K.

"Iya," sahut Ragil kecil, berusia 8 tahun. Dia duduk di sebelah sang ibu, menikmati elusan di kepalanya.

"Besok ... Papa, Mama, sama Adek mau ke USA."

"Ngapain, Ma? Mau ketemu grandpa grandma ya? Kok kakak gak diajak?" Ragil merasa kesal. Wajah tampannya itu tertekuk lucu.

"Bukan gitu sayang~. Mama nemenin Papa nyelesain pekerjaannya."

"Aku ikut ya?"

"Kamu, kan sekolah. Masa mau bolos?"

"Izin, Ma."

"Mau izin berapa bulan kamu?" Wanita itu mencubit pelan pipi tembam Ragil kecil. "Kemungkinan di sana bakalan lama loh."

Ragil kecil  semakin menekuk wajahnya. "Kalo gitu adek di sini aja sama aku."

"Adek masih kecil. Kamu juga masih kecil, sayang. Nanti kalo adek rewel emang kamu bisa nenanginnya? Kalo mau mandi emang bisa mandiinnya? Kalo mau makan? Gimana hayoo?"

Wajah Ragil semakin jelek. Benar juga. Dia tidak akan bisa merawat adiknya sendiri. Masa iya hanya harus tinggal berdua? Ditambah kakek neneknya. Tapi, kan mereka sudah tua, kasihan dong kalau harus merawat anak kecil.

"Ya tapi, Ma~" Ragil merengek dengan pipi yang digembungkan lucu.

"Udah ah. Mama mau siap-siap dulu."

🍪🍪

"Kamu jaga diri baik-baik ya. Jagain oma sama opa juga. Belajar yang pinter biar bisa nerusin perusahaan papa. Oke, sayang?"

Ragil kecil mengangguk pasrah. Wajahnya masih saja tertekuk kesal.

"Jangan cengeng. Jadi cowok itu harus kuat dan berani biar bisa jagain adeknya juga orang-orang sekitar kamu. Anak papa, kan hebat!" pesan sang ayah yang melihat Ragil mulai berkaca-kaca.

Ragil mengangguk pelan menanggapi ocehan ayahnya. Matanya beralih menatap adik kecilnya yang masih berumur 4 tahun, berdiri dengan menggenggam jari telunjuk sang ibu. Ragil berjalan mendekat dan berjongkok untuk menyejajarkan tinggi badannya.

"Adek jangan lupain kakak ya? Nanti kalo kakak libur sekolah, kakak bakal nyusul adek."

Adik Ragil itu mengangguk lugu. Dia mengulurkan jari kelingkingnya. "Kakak janji?"

Ragil tersenyum, menautkan jari kelingkingnya dengan senang hati. "Kakak janji, princess." Setelah itu mereka berdua berpelukan erat, menyalurkan rasa kasih sayang yang tak terhingga, dan rasa rindu yang mungkin akan lama dipendam.

"Ya sudah kami pergi dulu Yah, Bun," pamit wanita itu pada kedua orangtuanya. Meyalimi mereka bergantian. Itu juga dilakukan suami dari wanita itu.

"Adek, pamit dulu sama oma opa."
Adik Ragil mengangguk. Berjalan ke arah sang kakek dan nenek, bersalaman dan mencium pipi keduanya. "Dadah oma opaaa!" teriak adik Ragil riang.

"Dadaah kakaaak!"

Ragil melambaikan tangannya. Menatap mobil yang perlahan menghilang di balik pagar rumah. Rasanya sangat tidak rela. Dengan wajah murung Ragil berbalik dan masuk ke dalam rumah.

🍪🍪

Sudah sekitar dua minggu pasca kabar kematian kedua orangtua dan adik Ragil. Mereka mengalami kecelakaan pesawat saat berada di tengah perjalanan menuju USA. Pesawat yang ditumpangi tiba-tiba hilang sinyal.

BrotherhoodCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang