"Vano pulang dulu, ya."
"Ninggalin Dio sendiri?"
"Enggak. Nanti bang Raka ke sini."
Dio menunduk diam. Asik memainkan selimut.
"Besok ke sini lagi. Vano gak bawa seragam, besok sekolahnya gimana coba?" Vano mendudukkan diri di samping Dio sehabis mengambil jaket dan kunci motornya sofa depan TV.
"Ini udah malem, gak baik pergi malem-malem," ujar Dio dan menatap Vano polos.
Vano tertawa, "Vano cowok bukan cewek. Lagian ini masih jam delapan, masih banyak orang di luar."
"Udah, ah. Vano pulang dulu." Lanjutnya sembari berdiri.
Dio mencekal ujung baju yang dikenakan Vano. Menggeleng pelan sembari menunduk. Dan isakan kecil pun terdengar.
Vano menghela napas panjang untuk kesekian kalinya. Seperti ini, selalu seperti ini ketika sedang sakit. Rewel minta ampun.
"Udah dong, jangan nangis terus." Ucap Vano sambil menarik dagu Dio, selanjutnya menghapus air mata di pipi sahabatnya itu.
"Gimana mau sembuh kalo nangis terus?" lanjutnya.
"Pake– hiks, pake sragam Dio aja."
"Nametag-nya beda."
"Gakpapa."
"Gakpapa apanya. Kalo ketahuan OSIS atau guru bisa dapet poin."
Vano, si paling taat peraturan.
Sebenarnya sih tidak apa. Ketua OSIS nya, kan Asta, tinggal minta izin aja. Pasti diizinkan.
"Gak mau ditinggal~" rengek Dio. Anak itu menggelengkan kepalanya lagi.
Vano mendengus. Harus ekstra sabar menghadapi Dio yang seperti ini. Dia mengutuki Kinan yang sedari pagi tidak menampakkan batang hidungnya. Apa cewek itu benar-benar membenci Dio?
"Kampret si Kinan! Bisa-bisanya beneran gak dateng! Kalo beneran dia benci Dio kar'na masalah itu, awas aja lo," sungut Vano membatin.
"Oke, gak jadi," final Vano. Membawa Dio kepelukannya.
"Udahan nangisnya. Nanti tambah pusing." Lanjutnya sambil menepuk-nepuk pelan punggung Dio.
Beberapa saat dengan posisi saling memeluk, Vano membaringkan Dio karena anak itu tertidur.
Membuka ponselnya dan menyambungkan telefon. Berdering, namun tidak diterima.
Panggilan tak terjawab.
Vano berdecak, "Lo kemana sih!"
Dia mencoba sekali lagi. Masih sama, tidak terjawab.
Cklek.
Vano mengalihkan pandangannya ke pintu, raut bingung dia nampakkan. "Bang Ragil..."
"Hm?"
"Sendiri aja bang? Bang Raka mana?" tanya Vano setelah Ragil berada di dekatnya.
"Lagi ke dapur." Ragil menempelkan punggung tangannya ke dahi Dio. "Panas," gumamnya.
"Udah minum obat, kan?" lanjutnya bertanya.
"Udah. Baru aja tidur."
Ragil mengangguk. "Lo udah makan?"
"Udah. Oh iya, bang, Kinan di mana?"
Ragil menoleh, garis muncul di antara alisnya. "Gak di sini emang? Di rumah gak ada."
Vano ikut kebingungan. Lalu, kemana perginya cewek itu?
KAMU SEDANG MEMBACA
Brotherhood
General FictionProses Revisi Hanya memceritakan tentang kehidupan sehari-hari Kinan yang memiliki tingkat kemalasan dan kelesuan akut. Tidur, bermain, makan. 3 combo yang menyenangkan.
