Day 70 : Closed Things

42 1 0
                                        

Fajar menyingsing, menyapa separuh bumi yang penghuninya belum tentu semua bersatu dengan jiwanya. Contohnya kedua manusia yang masih hangat bergelung dengan selimut.

Cklek.

Pintu kamar mandi terbuka. Menampakkan sesosok manusia tampan. Wajahnya sudah cerah sehabis mandi. Remaja itu berjalan menuju dua manusia di atas kasur. Punggung tangan besarnya menyentuh dahi salah satu dari mereka. "Udah turun."

Dia beralih ke satu orang lainnya. Menepuk-nepuk pelan pipinya sambil berkata, "Adek bangun. Pulang yuk? Nanti keburu dicariin Raka sama Dinar."

Cewek itu tidak terganggung sama sekali.

Sekali lagi Ragil mencoba membangunkan Kinan, kali ini dia mencubit dan menarik hidung Kinan. "Banguuun."

Kinan menepis tangan Ragil, berbalik memunggungi Ragil dan memeluk Adi.

Ragil menghela napas, sepertinya harus menggunakan sedikit ancaman. "Bangun gak? Atau abang kasih tahu mereka soa—"

Kinan merengek kesal memotong perkataan Ragil. Dia menyibak selimut dengan kasar masih dengan mata terpejam. Ragil yang melihatnya tersenyum kecil.

"Buka dulu matanya." Suruh Ragil sambil menarik pelan tangan Kinan.

"Ngantuk!"

"Cuci muka biar gak ngantuk." Ragil merapikan rambut Kinan yang berantakan.

"Mager."

"Yaudah yuk langsung pulang." Ragil mengangkat Kinan yang masih senantiasa memejamkan matanya.

"Bang Adi gimana?"

"Udah turun panasnya. Nanti nyuruh yang lain biar kesini."

Kinan menyembunyikan wajahnya ke ceruk leher Ragil. Hari ini dia memutuskan tidak akan melakukan kegiatan apapun. Hari ini waktunya untuk me time!

Ragil menghentikan jalannya tiba-tiba, teringat sesuatu setelah matanya menangkap objek di depannya, "Abang lupa kalo bawa motor. Adek gakpapa?"

"Hmmm."

Ragil mendudukkan Kinan di atas motor, melepas hoodie dan berkata, "Pake ini."

Kinan menyandarkan kepalanya pada dada Ragil, mengindahkan ucapan cowok itu. "Masih gelap, ngapain pulang..."

"Nanti Raka sama Dinar nyariin gimana? Tadi malem aja nangis, kan mereka nyariin kamu."

Kinan mendengus kesal. "Hari ini adek me time."

Ragil mendorong Kinan, dengan telaten dia memakaikan hoodienya pada Kinan sambil berucap, "Nanti, kan mau nyari baju buat party, dek. Dress kamu juga udah jelek semua."

"Masih bisa dipake." Kinan memberi jeda sejenak. "Minggu kemarin bang Raka habis beliin adek baju."

"Jelek. Raka itu gak pinter pilih outfit." Ragil merapikan rambut Kinan yang menghalangi mata indah cewek itu. "Nanti abang aja yang pilihin dress buat kamu."

"Terserah. Aku gak ikut," balas Kinan acuh.

"Gakpapa kalo mau me time. Nanti abang sama anak-anak—"

"Kita."

"Amit-amit!"

Kinan tertawa kecil. Ragil menggelitik pinggang Kinan sampai cewek itu berteriak ampun. Ragil ikut tertawa. Sesaat tadi, Ragil menyadari bahwa kebahagiaan yang dia cari sesimpel ini. Tertawa lepas dan merasa tenang bersama Kinan.

Mereka melotot kaget saat Kinan akan kejengkang, tetapi setelah itu mereka kembali tertawa.

"Kalo suatu saat nanti Kinan liat abang belum punya anak juga..." Kinan menangkup pipi Ragil. "Abang aku bebasin buat angkat Kinan jadi anak abang."

BrotherhoodCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang