Seorang pemuda yang masih mengenakan baju tidur di siang hari ini menguap lebar sembari berjalan menuruni tangga. Matanya menangkap pemandangan yang tidak biasa. Alisnya mengkerut, siapa remaja laki-laki itu?
"Pagi," sapanya pada sang adik dengan suara serak khas bangun tidur. Rambutnya acak-acakan, matanya sayu, dan sialnya wajah bantalnya justru terlihat memesona.
"Udah siang."
Cewek itu berlalu pergi setelah berkata. Meninggalkan Aldrich yang membatu dan Raka yang mulai merasakan sesak.
Aldrich tersadar disebabkan gerakan grusa-grusu Raka. Anak itu mengambil inhaler di dekat TV, lalu menyedotnya kuat-kuat dalam satu hirupan.
"Kamu Raka ya?" tanya Aldrich yang sudah berjongkok di depan Raka.
"Lo siapa?" tanya Raka tersendat dengan masih menetralkan napasnya agar kembali teratur.
Tanpa menjawab, Aldrich membopong Raka dan mendudukkannya di sofa semula Raka duduk bersama Kinan. Dia menatap Raka yang tampak kaget dengan mulut sedikit terbuka dan tangan yang memegang inhaler kuat. "Anak Papa Anton, yang artinya kakak kalian."
"Hah?" Otak lemot Raka sedang mencoba memproses ucapan Aldrich. Kenapa tiba-tiba sekali dia punya kakak?
"Kamu diapain princess tadi?" Pertanyaan Aldrich mengacaukan otak Raka yang tengah berpikir.
Raka berkedip dua kali, menatap tepat ke manik Aldrich. Baru beberapa detik, dia langsung menunduk. "Gak tahu. Gue gak tahu."
Aldrich menatap jari jemari Raka yang meremat inhaler kuat, menyentuh tangan itu sembari meraih dagu Raka agar menatapnya. "Kamu yakin itu princess?"
Spontan Raka menggeleng. Kinan tidak seperti itu. Kinan tidak akan berkata seperti tadi. Namun, sayangnya cewek tadi adalah Kinan.
"Lupain apapun yang dikatakan cewek tadi kalau kamu merasa itu bukan princess. Oke?"
"Tapi itu adek. Gak mungkin gue halusinasi," lirih Raka.
Aldrich menghela napas panjang, mengacungkan satu jarinya. "Pertama, jangan anggap itu princess kalau kamu sendiri yakin itu bukan princess. Kedua, ganti bahasamu, kakak gak suka sama bahasa lo-gue."
"Tap—"
"Ssttt. Nanti malem temui princess lagi, buat sekarang mending tidur siang." Aldrich menguap sambil bergumam, "Baru bangun udah ngantuk lagi."
Aldrich menatap Raka. "Mau ikut tidur gak?"
Raka menggeleng. Aldrich berlalu karena mendapat penolakan.
"Aku tahu sebanyak apapun topengnya, dia gak akan berkata sesuatu yang mampu menyakiti hati orang lain, apalagi itu Raka," batin Aldrich.
Sekitar 20 menit Raka termenung di sofa—masih memegang inhaler—, memikirkan perubahan sikap Kinan yang tiba-tiba setelah turun dari lantai dua. Sedang asik melamun dia dikagetkan dengan kedatangan Aldrich yang sudah siap dengan pakaian casualnya.
"Ayo makan siang!" ajaknya antusias.
Raka menggeleng lagi, sejujurnya dia bingung. Katanya tadi mau tidur siang, kenapa tiba-tiba sudah rapi dan wangi begini?
Wajah Aldrich berubah seketika. "Kenapa? Kamu belum makan, kan?"
"Udah."
"Kapan?"
"Tadi."
"Sarapan kali. Sekarang udah jamnya makan siang, ayo!" Aldrich menarik paksa Raka. Membawanya ke dalam mobil lalu mengendarai menuju jalan raya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Brotherhood
General FictionProses Revisi Hanya memceritakan tentang kehidupan sehari-hari Kinan yang memiliki tingkat kemalasan dan kelesuan akut. Tidur, bermain, makan. 3 combo yang menyenangkan.
