Day 19 : Kemarahan Ragil

100 4 0
                                        

Kondisi kelas hening, walaupun ada sebagian yang ribut sendiri tidak memerhatikan guru yang sedang menjelaskan di depan, terutama bagi yang duduk di bagian belakang ataupun pojok dekat tembok.

Tidak terkecuali dua siswa yang duduk paling pojok belakang. Siswa yang dekat tembok menopang dagu malas. Sedangkan, siswa yang di sebelahnya menelungkupkan kepalanya ke meja.

Karena merasa bosan, cowok yang duduk dekat tembok membangunkan teman sebangkunya.

"Rakaa..." Panggilnya pelan dengan nada merengek sambil mengguncang kecil tubuh Raka.

"Emm... apa?"

"Ayo ke kantin."

"Gue mager."

"Iih, ayo. Katanya mau beliin jus jambu."

Raka mengambil sesuatu di tasnya. Kemudian, setelah mendapatkannya dia memberikan itu kepada Dinar. "Pake ini dulu."

"Bedak? Buat apa?"

"Udah pake aja di bibir."

Dinar mengangguk lalu mulai memakai bedak itu ke bibir. "Udah?"

Raka melihat bibir Dinar yang menjadi tampak pucat. Merapikan sedikit agar sempurna. "Udah. Sekarang pura-pura sakit, ya."

"Gak bisa ekting."

"Bisa." Raka menghadap depan. "Pak!" Panggilnya pada guru di depan sambil mengangkat tangan kanannya.

"Kenapa, Raka?"

"Dinar sakit. Saya mau anterin ke UKS." Ucapnya menunjuk Dinar.

"Iya, pucet banget mukanya. Yaudah sana."

"Baik, Pak."

"Tumben si bos sakit? Jangan-jangan mereka mau bolos?!" gerutu Adi. Dia menatap kepergian kedua temannya. Enak saja mereka bolos gak ajak-ajak!

Setelah izin, keduanya keluar kelas tidak lupa dengan actingnya. Raka merangkulkan tangan Dinar ke pundaknya dan Dinar membuat matanya menjadi layu. Benar-benar acting yang bagus.

Berhasil keluar, keduanya bertos ria. Dinar mengelap bibirnya yang tersungging senyuman manis di sepanjang jalan. Keduanya sampai di kantin yang masih sepi. Memilih tempat paling pojok untuk diduduki. Tempat yang memang biasa mereka tempati.

"Tunggu sini, gue pesenin dulu," ucap Raka.

Dinar yang akan duduk, tidak jadi dan langsung menggeleng. "Ikut."

"Gak usah. Sebentar doang elah."

Dinar menggeleng lagi. Kali ini dia menggenggam tangan Raka erat dengan wajah panik.

Raka menahan napas, mengalihkan pandangannya.

"Lucu banget, anjir!" pekik Raka gemas dalam hati.

Menghela napas, tangan Raka yang bebas meraih tangan Dinar dan menggenggamnya. "Yaudah, ayok."

Raka menggeret Dinar menuju ke tempat penjual minuman. Setelah memesan mereka kembali ke tempat semula.

"Raka."

"Kenapa?"

"Agil mana?"

"Di kelas lah."

"Gak ke sini?"

"Bentar lagi. Tunggu aja."

Dinar mengangguk lalu menaruh kepalanya ke meja.

"Raka, pengen main."

"Main apa?"

"Ke Timezone, yuk!" ucap Dinar antusias.

"Sama Agil aja sana. Gue males."

BrotherhoodCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang