Day 10 : Nasi Goreng

141 3 0
                                        

"Laper."

"Mau makan apa?"

"Pengen nasgor."

"Gue buatin dulu."

Kinan menggeleng, "Beli aja."

"Tumben," batin Ragil.

"Di tempat biasa?" Ragil yang sedang mengambil kunci mobilnya di atas meja belajar Kinan, bertanya.

Kinan mengangguk mengiyakan, "Langganan."

"Yuk! Sini naik."

Kinan langsung nemplok ke punggung Ragil, melingkarkan kedua kaki dan tangannya.

"Pake motor aja, bang."

"Dingin. Nanti lo sakit."

"Gak akan."

Ragil mendengus, "Yaudah, tapi kalo sakit jangan salahin gue ya."

"Hm."

Mereka turun, melangkah menuju ruang TV yang berada di tengah. Di sana ada sepasang suami istri yang sedang berpelukan mesra.

"Om, Tante," panggil Ragil. Ragil tersenyum saat kedua orang yang sudah dianggapnya sebagai orangtua, menoleh.

"Iya? Kenapa, Gil?" balas Anton bertanya.

"Kita mau beli nasgor. Om sama Tante mau nitip sesuatu ngga?"

"Tante enggak."

"Om juga enggak."

"Oh, yaudah. Kita pamit." Ragil menyalami kedua orang dewasa itu. Begitupun Kinan yang tetap dalam gendongan Ragil.

"Iya, Hati-hati di jalan."

Ragil dan Kinan mengangguk mendengar pesan suami istri itu. Kemudian, mereka berdua melenggang pergi. Sebelum benar-benar jauh, Ragil mengucapkan salam, "Assalamu'alaikum."

"Waalaikumsalam," jawab pasutri itu bersamaan.

Ragil mulai melajukan motornya dengan kecepatan stabil.

"Pegangan, Kinan. Nanti jatoh."

Kinan tidak menghiraukan. Dia masih asik menikmati terpaan angin malam yang sangat menyejukkan.

Ragil ikut tersenyum saat melihat dari balik spion, Kinan tersenyum kecil sembari mendongakkan kepalanya.

"Seger, bang."

"Iya, tapi pegangan." Ucap Ragil sambil menarik tangan Kinan dan menaruhnya di perut miliknya.

Kinan langsung memeluk Ragil, menempelkan kepalanya di punggung cowok penyayang itu.

Cukup memakan waktu, akhirnya sampai di sebuah ruko tujuan mereka.

"Rame banget, bang. Banyak cowok," bisik Kinan yang masih setia memeluk Ragil, tapi kali ini dia menyembunyikan wajahnya.

"Gapapa. Turun gih." Suruh Ragil sambil melepaskan tangan Kinan dari perutnya.

"Pulang aja, yuk."

"Udah terlanjur sampe, dek. Masa iya, harus balik lagi dan gak bawa apa-apa." Ragil melepaskan helmnya. "Udah, yuk. Tenang aja ada gue."

Ragil membopong Kinan dan berjalan ke arah tukang nasi goreng itu dengan tenang.

Sedangkan, Kinan sudah menyembunyikan wajahnya di sela leher Ragil dan jantungnya sudah berpacu dengan cepat.

Demi neptunus, dia tidak suka menjadi pusat perhatian. Rasanya seperti terintimidasi. Tidak apa jika hanya satu orang yang memerhatikannya, tapi jika banyak... dia tidak sanggup.

BrotherhoodCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang