Raja menuruni satu persatu anak tangga, senandungan kecil turut terdengar dari bilah bibirnya. Dia terus berjalan dengan gerakan-gerakan seolah dia tengah konser menyanyi ala profesional di panggung.
"Oy, Ja! Lo masih ngedot?" tanya Danu diiringi suara ngakak kencang. Raja menghentikan langkahnya dan menyorot tidak terima.
"Siapa yang lo bilang masih ngedot?!"
"Lah itu, lo bawa-bawa botol dot segala. Mau buat susu lo?" Danu menatap Raja mengejek.
Raja akan melemparkan botol itu, beruntung dia ingat ini barang langka jadi dia urungkan. "Karepmu!"
Mereka melongo, tidak paham dengan yang diucapkan Raja, tapi mereka tahu kalau itu bahasa jawa.
"Terserah lo. Gitu katanya."
Sontak mereka menengok ke arah orang yang menerjemahkannya.
"Lo bisa bahasa jawa?" tanya Niel pada Dewa.
Entah sejak kapan, si kembar—Niel dan Ganiel—,Dewa, dan Bima berada di sana.
"Gue orang jateng mon maap. Kenapa? ... Kaget lo pada?"
"Iya lah. Logat lo gak ada jawa-jawa nya! Muka lo apalagi." Dewa hanya mengedikkan bahunya membalas. Memang benar kata Niel, keduanya tidak ada pada dirinya, lagipula memang dari mulai orok dia sudah tinggal di Jakarta. Hanya ketika liburan panjang saja dia berkunjung ke Jawa.
Beralih ke dapur. Raja sibuk menakar susu, dia bingung seberapa susu yang harusnya di masukkan. Dia tidak pernah membuatkan susu ngomong-ngomong.
"Gil, gue gak bisa buat susu!" ucapnya gusar. Beruntung Ragil masih di dapur bersama Kinan dan Galih.
Ragil berdiri dari duduknya. "Ngomong dong dari tadi." Dia mengambil alih botol dan susu bubuknya. Tangannya mulai aktif membuatkan susu.
"Adek, lo disuruh naik Kala." Rajamengambil duduk di samping Kinan yang sedang meminum vitaminnya.
"Kala?"
"Iya..."
"Adek udah selesai, kan makannya?" lanjutnya bertanya. Kinan mengangguk.
"Bawain susunya keatas ya? Gue capek banget nih."
Raja berani mengajak Kinan bicara karena dia tahu Kinan sudah tidak badmood lagi. Walaupun tadi sempat deg-degan dulu saat mulai mengajak bicara.
"Hm."
Raja mengalihkan pandangannya ke Galih yang menidurkan kepalanya di atas meja makan dan menatap Kinan lamat. "Ngapa lo, Lih?"
Dengan wajah tengilnya, Galih menatap Raja. "Kepo."
"Ooo bocah! Gue buang juga lo ke kolam."
"Emang berani?" tantang Galih meremehkan. Pikirnya, Raja tidak akan berani karena ada Kinan di sini.
Raja berdiri, menghampiri Galih yang juga duduk di sisi lain Kinan. Menarik tangan Galih agar bangun, lalu mengangkatnya.
"Lepasin! LEPASIN GUEEE!" teriak Galih kesetanan. Berbeda dengan Raja yang malah terkaget-kaget. Pertama kali mengangkat Galih ternyata seenteng ini? Pantas saja Kinan kuat.
Raja tersenyum miring, menggendong Galih yang berontak menuju ke belakang, di sana ada kolam renang.
Galih sendiri sudah ketar-ketir. Niat hati hanya mau bercanda, sekali-kali menjahili orang tidak apa kan, sebab biasanya dia terus yang dijahili. Namun, kenyataannya apa? Dugaannya salah besar. Ngomong-ngomong dia tidak bisa berenang.
"Maafin Galih! Huaa ... LEPASIIIN." Galih sudah tidak bisa menahannya lagi saat sudah melihat hamparan kolam renang itu. Tangisnya meledak saat itu juga.
KAMU SEDANG MEMBACA
Brotherhood
Ficción GeneralProses Revisi Hanya memceritakan tentang kehidupan sehari-hari Kinan yang memiliki tingkat kemalasan dan kelesuan akut. Tidur, bermain, makan. 3 combo yang menyenangkan.
