"Kenapa adek ngga ngomong apa-apa soal penyakitnya ini, Pa?" Wanita itu menangis tersedu-sedu di pelukan suaminya. "Kenapa diem aja punya sakit separah ini?"
Sang suami mengelusi punggung istrinya itu, menenangkan. Walaupun dia sendiri juga merasa sedih, takut, dan khawatir menjadi satu. Dia sangat kalut.
"Udah Ma. Percaya sama adek, dia pasti selamat." pria itu mendekap lebih erat istrinya, dia menunduk. Lalu melanjutkan lirih, "Pasti selamat."
Kali ini pria itu mengalihkan perhatiannya ke anak sulungnya yang terbaring di brankar rumah sakit. Ya, mereka menunggu kabar dari dokter mengenai transfusi darah yang sedang dijalani Kinan, di ruang tempat Dinar sekarang terbaring.
Pria itu teringat kejadian setengah jam lalu.
"LEPASIN GUE! GUE MAU SAMA KINAN." Dinar berteriak histeris dan terus memberontak di depan ruang ICU.
"Nar! Lo tenang dulu!" Raka dan satu cowok lagi sedang mencoba menghentikan aksi Dinar.
"Lepasin gue!! Lepasin!!!"
"Gue mau nemenin dia. Lepasin gue, brengsek!!"
"ADEK! ADEK!"
Dinar menggila. Dia terus berteriak dengan bercucuran air mata. Memanggil sang adik yang berada di dalam ruang ICU.
"Om, ini gimana?" Raka bertanya pada pria yang masih sibuk membenarkan posisi sang istri yang sudah tidak sadarkan diri. Mereka berdua sudah kualahan menahan Dinar.
Pria itu mendekat. Berdiri di depan Dinar, menangkup kedua pipi Dinar dengan kedua tangannya. Kemudian, dia menatap tepat di manik hitam legam Dinar dengan sorot dalam dan berucap, "Lihat Papa. Lihat Papa, Dinar!"
Mata keduanya bertemu, "Abang, tenang. Adek nggak akan kenapa-kenapa. Dia kuat, kamu tahu itu, kan."
"Nggak, Pa. Adek sendirian! Adek sendirian di dalem. Dinar mau nemenin!!"
Tangisan dan jeritan histeris itu begitu pilu, sampai siapapun yang mendengar pasti ikut merasakan sakit dan sedih.
Dinar kacau.
Hatinya sangat kacau. Dia merasa bersalah, dia terus menyalahkan dirinya sendiri. Di dalam otaknya sangat berisik, dirinya saling beradu di dalam sana.
"Dinar mau masuk, Pa. DINAR MAU MASUK!!" cekalan kedua cowok tadi lepas, Dinar lolos dan berlari ke arah pintu. Namun, sebelum sampai dia sudah tertangkap lagi oleh pria tadi.
"Lepasin!! Lepasin Dinar, Pa."
"Adek!"
Ketiga laki-laki tadi saling tatap. Seakan mengerti akan tatapan itu, kedua cowok yang seumuran dengan Dinar itu mengangguk.
"Adek! Adek! Adek!"
Dinar berteriak memanggil adiknya. Dia terus menatap pintu warna putih itu nanar. Matanya masih terus mengalirkan air, bahkan sekarang bertambah.
"Adek denger abang, kan? Kalo denger, ijinin abang masuk, ya." Dinar berkata lirih, "Ayo, bilang sama mereka suruh buka pintunya."
Sesak.
Pria itu sudah tidak bisa melihat anaknya seperti ini. Hatinya seakan disayat oleh sesuatu yang tajam. Dia menatap kedua cowok yang menahan Dinar, lalu mengangguk. Kedua cowok itu paham.
"Adek—" Dinar limbung tidak sadarkan diri setelah dipukul tengkuknya oleh satu cowok lain. Sebelum benar-benar kesadarannya direnggut, dia sempat menggumamkan kata 'maaf'.
KAMU SEDANG MEMBACA
Brotherhood
Ficción GeneralProses Revisi Hanya memceritakan tentang kehidupan sehari-hari Kinan yang memiliki tingkat kemalasan dan kelesuan akut. Tidur, bermain, makan. 3 combo yang menyenangkan.
