Sudah tiga hari berlalu sejak insiden tembakan yang mengenai lengan kiri Kinan. Sampai sekarang luka itu belum sembuh karena kecerobohan cewek itu yang membuat jahitannya lepas, dan harus dijahit ulang.
"Adek ngapain akhir-akhir ini? Keliatannya sibuk banget?" Dian bertanya penasaran.
"Jarang makan, udah biasa sih. Sering pergi keluar sendiri, sekalinya di rumah, cuma tiduran sama main HP kalo gak laptop," imbuh Dinar dengan sebal. Dia merasa sudah tidak dibutuhkan adiknya lagi. Tidak diperhatikan lagi, tidak disayang lagi mungkin? Apa dia sudah tidak berguna?
"Emang iya?" tanya Anton ragu. Beliau tidak tahu, pasalnya jarang di rumah karena pekerjaan. Menatap lekat-lekat wajah putri kecilnya. Menyusuri setiap inci wajahnya dengan serius.
Anton terpaku.
"Eh, iya! Kamu kenapa? Mukanya kelihatan kecapean gitu. Matanya juga tambah sayup dari biasanya." Anton berkata khawatir, "Adek nggak boleh kecapean, ya! Kamu ngapain pergi-pergi keluar? Sendirian lagi."
Kinan menyedot susu kotak rasa cokelat. "Nggak ngapa-ngapain."
"Jangan bohong dek," Dinar menatap tajam penuh kecurigaan.
"Gakpapa. Jujur aja, sayang," Dian berkata lembut.
Kinan diam beberapa detik, berkedip sekali. "Kinan sebenernya..." Dia menggantungkan ucapannya. Mendelongsor ke lantai, berbalik menghadap ke kedua orang tua dan kakaknya. Kemudian melanjutkan, "Jadi penulis."
Apa katanya?
"Penulis?" Dinar membeo. Menatap Kinan dengan tatapan bertanya.
"Hm."
"Kamu beneran?" gantian Dian yang bertanya.
"Iya~"
Ini hari minggu. Keempatnya sedang berada di ruang TV. Di satu sofa yang sama, dua perempuan di tengah dan ke dua pria di masing-masing sisi. Kinan bersender ke dada Anton dan Dinar yang memeluk sang ibu.
"Sejak kapan?" Anton bertanya sambil sesekali mengecup sayang pucuk kepala anak bungsunya yang sudah kembali duduk di sofa.
"Ngg..." Kinan berpikir sejenak, lalu menjawab. "Lupa, Pa."
"Baru kok," tambahnya.
Hening beberapa saat.
"APA?!" teriak Dian sambil menengok ke Kinan dengan pupil melebar sejenak. Dan seketika itu pula, Kinan tersedak minumannya.
Dinar yang peka, berjongkok di bawah Kinan dan langsung memberikan air putih kepada adiknya, sambil berkata, "Pelan-pelan."
"Mama, ih! Adek jadi keselek, kan, Dinar merutuk sebal. Dian nyengir.
"Iya. Kenapa sih, Ma?" Anton yang sedang menepuk-nepuk punggung putrinya, bertanya.
"Jangan bilang yang cerita pertamanya tentang pembunuhan?!"
Diam.
"Kok ngga jawab."
"Tadi Mama, kan bilang buat nggak bilang." balas Kinan dengan memiringkan kepalanya.
"Yaudah sekarang bilang! Itu kamu yang nulis?"
Kinan menatap malas ibunya dan mengangguk. "Iya."
Lagi-lagi Dian dibuat shock. Walaupun sudah berusia, Dian itu pecinta novel. Cerita apapun yang baru naik daun dia pasti tau, kadang juga membeli buku bersama putrinya jika sedang senggang.
"Astaga. Mama nggak nyangka banget!"
"Bagus, Ma?"
"Bagus banget! Keren! Alurnya tuh nggak bisa ketebak sama sekali," ujar Dian antusias. "Tapi, sayangnya nama tokohnya dari beberapa novel sama semua. Jadi bosen liat nama itu-itu mulu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Brotherhood
Fiction GénéraleProses Revisi Hanya memceritakan tentang kehidupan sehari-hari Kinan yang memiliki tingkat kemalasan dan kelesuan akut. Tidur, bermain, makan. 3 combo yang menyenangkan.
