Day 42 : Kinan bored

74 3 0
                                        

"GIL! Lo–aakhh..."

Secara kompak dan refleks mata mereka beralih menatap Raka.

Raka menunduk, tangannya meremat baju seragamnya sendiri di bagian dada. Napasnya memburu tidak teratur.

"Ka. Lo kenapa?" Ragil yang duduk di sebelah Raka, menyentuh pundak sahabatnya itu.

"Sakit ... Dada gue sesek," jawab Raka susah payah. Dia bernapas melalui mulut berharap agar udara cepat-cepat masuk dan napasnya kembali normal. Dia tidak mengerti kenapa bisa seperti ini?

"Kamu tenang dulu, jangan panik," suruh Dian. Wanita itu beralih menatap putranya dan berkata, "Ambilin inhaler di kamar adek, bang."

Dinar mengangguk. Buru-buru dia naik ke lantai dua menuju kamar sang adik.

"Raka. Raka denger Tante. Tarik nafas ... buang..."

Raka mengikuti arahan Dian. Namun, tidak kunjung juga mereda. Dia coba mengulangi lagi sampai tiga kali, tentu Dian masih terus mengarahkan.

Mereka mencoba untuk tetap tenang.

Tidak lama Dinar datang, membawa Kinan digendongannya. Menyerahkan inhaler pada Ragil. Ragil menerima dan langsung memakaikan pada Raka. Sebelum itu dia kocok terlebih dahulu inhalernya.

Dengan satu tarikan napas Raka mulai menghisap inhaler. Setelah beberapa menit, tidak juga ada perubahan.

Raka merasa tubuhnya mendadak lemas, matanya perlahan-lahan mengabur dan menjadi gelap. Beruntung, Ragil langsung menahan tubuh Raka yang akan jatuh.

"Raka. Raka, woi..." Ragil menepuk-nepuk pipi Raka. Dia menatap Dian dan Anton bergantian.

"Bawa ke rumah sakit sekarang." Anton angkat bicara. Beliau beranjak dari tempatnya untuk menyiapkan mobil. "Om ambil mobil, kamu bawa Raka keluar."

Ragil mengangguk.

"Tante siap-siap dulu." Dian buru-buru menuju kamar.

Ragil membopong Raka ala bridal style. "Adek kalo mau ikut, ganti baju dulu," pesan Ragil sebelum pergi.

Di tempat makan, tersisa Dinar dan Kinan. Dinar menatap adiknya, begitupun Kinan yang balas menatap Dinar. Untuk beberapa saat mereka saling pandang dengan pancaran beribu kasih sayang, mata yang selalu saling memberikan sorot lembut dan memuja tanpa pernah putus.

"Ikut?" Kinan mengangguk sekali. "Ganti baju dulu."

Kinan menggeleng. "Gak usah."

"Pake baju tidur gini?"

Kinan mengangguk mantap.

"Yaudah," jawab Dinar cuek. Dia juga malas sebenarnya kalau harus naik lagi sambil gendong adiknya. Dinar melenggang, Kinan masih berada digendongan depannya. Kali ini cewek itu bersandar di dadanya.

🍪🍪

Anton beserta keluarga menunggu hasil pemeriksaan Raka. Mereka sedang berkumpul di ruang rawat Raka. Kedua orangtua duduk di sofa ditambah Kinan di tengah-tengah. Sedangkan, Ragil dan Dinar duduk di kursi sebelah ranjang pasien.

"Kalian berangkat sekolah sana. Ini udah telat," suruh Dian.

"Om sama Tante gak kerja?" tanya Ragil.

"Om berangkat, tante di sini aja nemenin Raka," jawab Dian.

"Tante kerja aja, biar Ragil yang ijin sekolah sekalian ngijinin Raka."

"Gak usah. Udah sana kalian berangkat."

Anton mengulurkan tangan, Dian menyambut dan menyaliminya. "Papa berangkat dulu," pamit Anton.

BrotherhoodCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang