Bulan menggantikan matahari. Bertugas menyinari sebagian belahan bumi yang disebut malam. Di kota metropolitan ini masih terdengar banyak sekali lolongan berbagai jenis kendaraan. Sapuan udara yang terasa semakin dingin menyapa setiap orang di luar bangunan dan gedung-gedung.
Ragil yang keluar sedari jam lima sore belum juga mendapat apa yang dia inginkan. Berbagai butik dia singgahi tetapi tidak juga menemukan gaun yang memuaskan. Remaja itu memarkirkan motornya di butik terakhir. Beruntung butik masih buka di jam 8 ini.
"Ada yang bisa kami bantu?" tanya salah satu karyawan di sana.
"Saya mencari dress," ucap Ragil. Matanya menelisik disetiap tempat, kakinya melangkah menjajahi setiap keramik.
"Dress untuk usia berapa, kak?"
"16 tahun."
"Boleh saya melihatnya? Mungkin saya bisa merekomendasikan beberapa dress cantik di sini."
Ragil membuka ponselnya. Mencari foto Kinan dan memperbesar agar hanya terlihat tubuhnya—leher sampai kaki. Kemudian, Ragil memperlihatkan pada karyawan itu.
"Oh, ini pacarnya ya? Mari ikut saya. Saya ada beberapa rekomendasi."
Ragil mengikuti arah karyawan itu berjalan dengan mata yang terus melihat sekitar.
"Di sini. Silahkan dipilih, ada dress model terbaru juga. Semoga mendapat yang cocok." ucap karyawan itu mempersilahkan Ragil untuk memilih.
Ragil memilih-milih, mengambil gaun yang menurutnya lumayan menarik. Setelah membanding-bandingkan dan membayangkan si pemalas memakai gaun di depannya, sepertinya kurang cocok. Lagi-lagi Ragil tidak mendapatkan gaun yang cocok. Cowok itu menghela napas lelah, setelah 3 jam berkeliling dan dia tidak mendapatkan apapun. Menyedihkan sekali.
"Maaf, sepertinya tidak ada yang—" ucapan Ragil terpotong saat matanya tidak sengaja menangkap sebuah gaun yang terpakai rapi pada manekin di belakang kaca bagian depan butik. Bodohnya dia tidak melihat ketika masuk tadi.
Gaun yang simple dan tidak terlalu terbuka. Berwarna hitam, sesuai dengan ekspektasinya. Dengan senang dan antusias, Ragil menunjuk gaun tersebut pada karyawan itu. "Ini. Saya ambil ini."
"Kakaknya yakin?" Bukan apa. Gaun itu terlalu simple menurutnya. Padahal remaja di depannya ini auranya orang kaya sekali.
"Ya," balas Ragil dengan mantap.
"Baik. Mohon tunggu sebentar, saya bungkuskan terlebih dahulu."
Ragil berjalan mengikuti karyawan itu menuju kasir, setelah membayar dan menerima barangnya, Ragil keluar dengan hati yang puas. Membayangkan Kinan memakai gaun ini membuat cowok itu semakin kesenangan. Pasti cantik sekali.
Sebelum pulang ke rumah, Ragil memutuskan untuk membeli martabak, nasi goreng, dan beberapa jajanan lain. Semoga saja Raka mau memaafkannya.
Tidak lama, Ragil sampai di kediaman keluarga Anggara. Senyumnya tak pernah luntur, sudah tidak sabar melihat Kinan mencoba gaunnya. Dia mengambil barang-barang belanjaannya yang digantung di masing-masing sisi stang motor. Tanpa mengetuk pintu, anak itu masuk.
"Om, Tante, ini Ragil bawain martabak." Ragil menghampiri pasutri yang sedang menonton televisi, meletakkan sebungkus martabak di meja.
"Yaampun, Ragil! Kamu dari mana aja sampe belum mandi jam segini?!" pekik Dian. Kaget melihat seragam sekolah masih melekat di tubuh Ragil. Ragil meringis mendengarnya.
"Maaf, Tante. Ragil habis nyariin dress buat adek." Ucapnya sambil menunjukkan paperbag wadah gaun milik Kinan.
"Kemana aja? Keliling dunia kamu? Sampe jam segini baru pulang?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Brotherhood
General FictionProses Revisi Hanya memceritakan tentang kehidupan sehari-hari Kinan yang memiliki tingkat kemalasan dan kelesuan akut. Tidur, bermain, makan. 3 combo yang menyenangkan.
