Day 39 : Kinan demam

174 1 0
                                        

Di ruang UKS, terdapat seorang cowok terbaring di brankar. Dia dikelilingi empat orang, salah satu diantaranya perempuan. Dua orang dari mereka menatap khawatir tetapi yang satu tidak terlalu terlihat, sebab tertutupi wajah datar dan malasnya.

"Kenapa?" tanya cewek itu.

"Gue gak tau. Tapi kayaknya gara-gara minum air putih," jawab Raka lirih.

"Hah? Masa cuma minum air putih bisa pingsan," heran Raja dengan menampilkan wajah bodohnya.

"Obat tidur," gumam Kinan pelan membenarkan sambil menatap wajah sang kakak.

"Apa?" tanya Raka yang tidak mendengar jelas yang digumamkan Kinan.

Tidak menghiraukan pertanyaan Raka, Kinan mendongak. "Mana botolnya? Masih?"

"Ada. Gue ambilin dulu."

Setelah kepergian Raka, keheningan terjadi. Kinan sibuk mengecupi tangan Dinar dan sesekali menghirup aroma segar tubuhnya.

"Obat tidur?"

Kinan menatap Asta dan mengangguk. Dia sempat terkejut sejenak karena Asta mendengar gumamannya.

"Oh jadi Dinar gak pingsan?"

Kali ini Kinan berganti menatap Raja dan mengangguk.

"Siapa ya kira-kira yang ngasih obat tidur? Kurang ajar!"

Asta berjalan memutar, duduk di tempat Raka dan mengangkat Kinan kepangkuan. Tangannya aktif mengelusi rambut halus Kinan sesekali menciumi kepala cewek itu. "Masih lemes?"

Kinan mengangguk. Jujur saja, rasa-rasanya dia semakin pusing, ditambah wajahnya panas dan kelopak matanya terasa berat. Sepertinya dia demam.

"Pulang aja, yuk," ajak Raja.

"Bentar lagi."

Raja mengangguk saja.

"Ini, dek." Raka berbicara dengan napas tersenggal-senggal sambil memberi botol berisi air putih yang tersisa setengah.

Kinan menerima, membuka tutup botol itu lalu mengendusnya. Merasa kurang yakin dia menuangkan air itu ke tutup botol dan mengendusnya lagi.

Mendongak menatap Raka yang masih menetralkan tempo napasnya dan berkata dengan mantab, "Dosis rendah. Bentar lagi bangun."

Raka bernapas lega. Untung saja, Dinar tidak kenapa-napa. Dia dibuat sangat khawatir sampai-sampai dia lari-lari. Namun ingat, Raka tidak mau mengurusi Dinar seperti ucapannya tadi. Kalau bisa.

Raja sangat penasaran. Memangnya obat tidur itu tercium baunya?

"Dek, pinjem. Abang penasaran."

Kinan memberikan botol dan tutupnya pada Raja. Setelahnya, dia bersandar pada dada Asta dan memejamkan mata. Dia benar-benar demam sekarang ini.

Raja melakukan hal serupa dengan Kinan tadi. Mengendus isi botol lalu air yang berada di tutup botol. Dia mengernyit, mengulangi hal yang sama tapi bedanya dia menghirup dengan lebih dalam.

"Kok adek bisa tau ada obat tidur dosis rendah?"

"Baunya."

"Huh? Bau apaan? Cuma bau air putih aja perasaan. Adek bohong ya?"

"Adek kenapa?" tanya Raka cemas.

"Demam," jawab Asta mewakili.

"Pulang gih. Gue di sini dulu nungguin Dinar sama Agil," ucap Raka pada Kinan.

"Em," balas Kinan tidak berdaya. Wajahnya sudah memerah dan suhu tubuhnya pun panas.

Sesudah itu, Asta membawa Kinan keluar diikuti Raja yang masih mencoba mencium air putih yang katanya ada obat tidurnya itu.

BrotherhoodCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang