Day 26 : My favorite

71 3 0
                                        

Di sebuah ruangan yang lumayan redup pencahayaan hanya terdengar suara ketikan keyboard dan terkadang juga ada suara lembaran kertas yang dibuka. Helaan napas pun juga tidak jarang terdengar.

"Kenapa jadi gue yang ngerjain?!" gerundelnya dengan suara datar namun tersirat kekesalan di dalamnya.

Seseorang pemilik ruangan itu sedang duduk lesehan di karpet bulu, menghadap sebuah laptop dan banyak kertas yang berserakan di meja juga lantai. Memakai kaos putih oversize, kaos kaki 5cm di atas mata kaki, tidak lupa kacamata anti radiasi yang bertengger apik di hidungnya.

Jari-jari lentiknya terus berkutat dengan kertas-kertas dan laptop itu. Sesekali dia memijat matanya yang terasa pegal atau pangkal hidung karena merasa pusing. Dia juga menyempatkan diri untuk merubah posisi duduk agar terasa nyaman.

Terkadang dia juga menguap dan mengelus perutnya yang masih terasa nyeri akibat kejadian tadi siang.

"Sial! Banyak banget."

Biadab memang mereka! Sudah tahu dirinya habis ditimpa musibah, eh malah disuruh mengerjakan laporan yang banyaknya gak ngotak ini.

Sebenarnya, masing-masing mendapatkan tugas laporannya, malahan yang dapat lebih banyak itu Nafta. Emang dasarnya Kinan saja yang malas. Dia saja baru memulai mengerjakan tadi pukul 10 malam dan sekarang baru jam 11 kurang sedikit.

Saking fokusnya dengan semua itu, dia tidak sadar ada cowok jangkung yang berdiri di ambang pintu kamarnya. Cowok itu mendekat, duduk bersila disamping Kinan dan memerhatikan sejenak layar laptop dan kertas-kertas yang dirinya tidak tahu maksud semua tulisan itu.

Dinar menatap sang adik, kemudian bertanya, "Adek belom selesai?"

Kinan diam.

"Adek."

"Dek."

"Adeeek." Kali ini Dinar sedikit menggoyangkan tubuh Kinan karena tidak mendapatkan respon sama sekali.

Kinan tidak terusik. Dia tetap fokus dengan apa yang ada di depannya sekarang.

"Adek temenin bobo, yuk," ajak Dinar. Dia sibuk memainkan jari-jari tangan sang adik sebelah kiri. Sedangkan tangan kanannya masih sibuk mengetik.

"Adek, iih."

"Kok gak dijawab?" ucap Dinar kesal dengan  menatap jengkel adiknya itu.

"Aaa~, adeeeek." Dinar memeluk Kinan dari samping.

Kinan belum memberikan tanda-tanda menggubris sang kakak. Pikirannya benar-benar hanya berpusat pada pekerjaannya.

Ayolah, apa cewek itu lupa kalau sang kakak sedang dalam masa perubahan suasana hati yang drastis?

Tidak ingin menyerah agar mendapat perhatian dari sang adik, Dinar menusuk-nusuk pipi kenyal milik Kinan. Melepas kacamatanya, mengelap kacanya menggunakan kaos yang dipakainya sendiri kemudian kembali memasangkan benda itu.

Masih belum digubris. Bahkan sekedar dilirik pun tidak. Keberadaanya seakan dianggap hanya nyamuk lewat.

Dinar menunduk, melihat tengah-tengah antara kedua tangan Kinan dan tubuh cewek itu dengan meja, yang kosong. Matanya berbinar saat mendapat ide agar adiknya membalas semua yang dilakukannya. Perasaan antusias memenuhi dirinya.

Dia masuk ke sela tangan Kinan, duduk di kaki cewek itu dan melingkarkan tangan dan kakinya ke belakang tubuh Kinan. Karena dia lebih tinggi dari Kinan maka pandangan Kinan terhalang oleh tubuh bongsor Dinar.

Anak itu merasa bangga dengan apa yang dilakukannya karena berpikir bahwa ini akan berhasil. Bahkan senyumnya mengembang lebar. Namun, rasa itu langsung dipatahkan karena Kinan mendorong tengkuk Dinar sampai kepala cowok itu berada di pundaknya. Seketika itu, Dinar mewek lagi.

BrotherhoodCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang