Suasana malam yang sangat tenang. Tiang lampu yang berada di setiap pinggir jalan memancarkan cahaya terang sebagai pengganti matahari. Jalanan tidak terlalu ramai oleh kendaraan, memberi nuansa nyaman tersendiri.
Dua orang remaja tampak berhenti di depan sebuah cafe dengan napas terengah-engah.
"Itu ... di sana."
"Gue juga denger."
Saat sampai di gang sempit dan cukup gelap, kedua remaja itu disuguhkan pemandangan yang menarik amarah.
"Tolong. Kenapa gak ada yang denger?" lirih seorang remaja laki-laki.
"Gue denger," jawab Ragil. Dia berjalan tenang ke arah cowok yang masih terduduk di bawah dengan mata terpejam dan menundukkan kepala, diikuti temannya di belakang.
"Kalian lagi," desis Asta dingin.
Bugh!
Asta meninju pipi si A, dilanjutkan si B, C, dan D. Dia melawan ke empat cowok itu dengan mudah.
Sementara Ragil, dia menopang tubuh Galih yang sempat akan terjatuh. "Bisa jalan gak?"
Galih diam dengan tatapan kosong.
Ragil menghela napas, membawa Galih kegendongannya.
"Duluan aja. Gue masih mau di sini." Asta yang membelakangi Ragil, melirik lewat ekor mata. Menyeringai, menatap keempat cowok yang sudah tergeletak tak berdaya dengan nafsu membunuh yang kentara.
"Jangan sampe mati," pesan sekaligus peringatan Ragil berikan.
"Hm."
Setelah mendapat jawaban, Ragil berjalan menjauh.
"Gue ngerti sekarang," gumam Ragil. Mengingat Kinan, cowok itu memejamkan mata, menghela napas. Memijit pangkal hidungnya, kemudian mendesah mengeluh, "Yaampun."
Tidak lama kemudian, mereka berdua sampai di tempat penjual nasi goreng.
Ragil mendudukkan Galih di samping seorang cewek yang tampak sibuk memainkan ponsel.
Cewek itu menoleh, menatap Galih dengan tatapan sulit diartikan. "Kenapa?"
"Nanti gue ceritain," jawab Ragil.
Kinan meletakkan ponsel ke meja, tangannya beralih menangkup wajah babak belur Galih. Diarahkan wajahnya agar menghadap dirinya.
"Abang, hei," panggil Kinan lembut.
Ragil yang mendengar dibuat cemburu. Dia sudah lama tidak diseperti itukan.
Tidak hanya Ragil, semua remaja yang berada di sana merasa iri.
"Bang."
Galih masih melamun. Tidak menjawab sama sekali.
Kinan lebih mendekatkan wajah Galih. Dia berbisik tepat di telinga Galih, "Gue punya bayi besar baru."
Galih bereaksi. Namun, masih terlihat linglung.
Setelah diam beberapa saat, dia menatap Kinan dengan mata membola dan berkaca-kaca. Gelengan ribut dia berikan.
"Gak! Gak boleh!!" teriak Galih disertai air mengalir dari sudut matanya.
Kinan tersenyum miring.
"Mana dia?! Di mana?! Biar Galih hajar!"
"Sok-sokan." Jawab Kinan sambil membawa Galih kedekapannya. Galih membalas pelukan Kinan.
"Sakit~" adu Galih memanjangkan kata terakhirnya.
"Hm."
Tangisan Galih bertambah keras.
"Kenapa gak ngomong dulu?" tanya Kinan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Brotherhood
Ficção GeralProses Revisi Hanya memceritakan tentang kehidupan sehari-hari Kinan yang memiliki tingkat kemalasan dan kelesuan akut. Tidur, bermain, makan. 3 combo yang menyenangkan.
