Day 78 : 3 bercak merah

40 2 0
                                        

Jam menunjukkan pukul 10 malam. Ragil mengubah selimut yang tadinya menutupi sampai sebatas perut Dinar dan Raka, dinaikkan sampai sebatas dada. Seperti biasa, setiap sebelum tidur Dinar meminta dielus kepalanya.

Cowok itu mengambil paperbag yang berisi dress untuk Kinan. Kakinya terayun menuju ruang sebelah. Sesampainya di kamar Kinan, Ragil mendengar samar-samar orang berbicara. Dilihatnya Kinan tengah berdiri di balkon kamarnya. Ragil mengernyit heran, apa adiknya itu sedang berbicara dengan seseorang? Atau bermonolog?

"Adek." Panggil Ragil sambil membuka pintu balkon. Kinan membalikkan badan, menatap Ragil dengan ekspresinya yang seperti biasa.

"Adek lagi ngobrol sama siapa? Tadi abang kayak denger kamu ngomong-ngomong."

"Hm? Enggak."

Ragil memilih abai. Cowok itu menyodorkan paperbag nya pada Kinan. Dia tersenyum saat si pemalas menerimanya. "Itu buat adek."

Kinan memandang paperbag di tangannya. Setelah beberapa detik, Kinan lanjut menatap Ragil dan kembali menatap paperbagnya. Dia membukanya, satu tangannya bergerak mengambil dress itu. Diangkatnya dress itu ke depan wajah, matanya mengamati dari atas sampai bawah, simple. Kinan menurunkan tangannya dan kembali menatap Ragil. "Boleh adek pake sekarang?"

Ragil mengangguk semangat. "Cobain dulu, kalo adek gak suka nanti beli lagi."

Mereka masuk. Ragil menunggu Kinan yang sedang berganti di kamar mandi dengan tidak sabaran. Setelah beberapa menit, Kinan keluar dari kamar mandi. Mata Ragil menelisik dari bawah sampai atas seiring Kinan yang mendekat. Hanya satu kata yang melintas di benak Ragil, cantik.

Kinan terlihat sangat cantik. Sampai-sampai Ragil lupa berkedip.

Kinan melihat dirinya sendiri di cermin full body. Senyumnya terbit. Gaunnya cantik, sangat pas di tubuhnya. Kinan suka ini. "Bagus, bang. Kinan suka."

Ragil mendekat, melingkarkan tangannya ke perut Kinan. Mereka bertatapan lewat cermin. "Adek cantik. Abang suka."

"Kita nikah?"

Ragil tersenyum. "Gak."

"Padahal kita cocok."

"Hm. Kalo dilihat dari planet mars."

Kinan tidak menanggapi lagi. Dia sibuk menatap dirinya sendiri di cermin. Diam beberapa saat, tangannya bergerak mengelus rambut Ragil yang tengah menyembunyikan wajahnya di ceruk leher miliknya. Selanjutnya, Kinan membuka suara memecahkan keheningan, "Makasih."

"Hm?"

"Makasih dressnya." Mendadak mata Kinan berkaca-kaca.

"Sama-sama. Anything for u, sweetie," tegas Ragil dengan suara pelan yang teredam.

Kinan membalikkan badan, membuat Ragil harus melepas pelukannya. Dengan jarak yang tipis, Kinan mendongak menatap Ragil begitu pun Ragil yang menunduk balas menatap Kinan. "Kenapa? Kok mau nangis?"

Kinan mengulum bibirnya dan menggeleng. "I love u."

"Love u more, sweetie."

Air mata Kinan lolos, isakan pun keluar dari bilah bibirnya.

"Hei, ada apa?" tanya Ragil khawatir. Dia menangkup pipi Kinan.

Bukannya menjawab, Kinan malah memeluk Ragil. Isakan-isakan kecil masih terdengar. Sampai beberapa menit dalam kondisi saling memeluk, Kinan sedikit mengendurkan tangannya tanpa melepas pelukannya. Mata sembabnya menatap Ragil dari bawah. "Makasih."

BrotherhoodCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang