Empat remaja keluar dari sebuah rumah besar dengan tergesa-gesa. Dua orang menaiki satu motor dan dua orang lain menaiki satu mobil. Kendaraan itu melaju membelah udara, kecepatannya yang tinggi membuat dua kendaraan itu sampai di rumah Dio dalam waktu singkat. Semuanya turun, berlari ke empat kamar berbeda dan menutup pintu dengan keras.
Di sisi lain, Kinan sedang keluar dari dalam rumah yang sama. Helaan napas panjang terdengar. Bayi besarnya ngambek semua. Depresi dia lama-lama.
Disepanjang perjalanan, Kinan sibuk telfonan. Dari beberapa kata yang dilontarkan, diduga Kinan sedang membahas mengenai event party yang dimaksud Raka tadi.
Cukup lama telfonan, sambungan itu terputus bertepatan dengan mobil yang dia tumpangi memasuki daerah pekarangan rumah Dio. Dia sudah siap menghadapi para bayinya.
"Yang sabar, udah takdir," gumam Kinan dengan nada datar seperti biasa.
Kamar pertama yang dia buka adalah kamar milik Dio. Di dalam tidak ada tanda-tanda manusia satu pun. Sepi bagai kuburan. Kakinya melangkah, mengitari kamar, membuka lemari sampai di bawah kasur, tetapi tidak menemukan apapun. Kinan melangkah ke kamar mandi, dan benar saja Dio tengah meringkuk di dalam bathtub.
"Dio..."
"Hei." Kinan mengelus pipi Dio yang basah oleh air mata. Dio tidak menghiraukan, dia tambah menenggelamkan wajahnya di sela tangannya dengan isakan yang semakin keras.
Kinan mendudukkan Dio, mengelap peluh di dahi cowok itu sayang. "Kenapa, hm?"
"Kakak jahat!"
"Jahat kenapa?" tanya Kinan bingung. Padahal seingatnya dia tidak melakukan kesalahan apapun dan tiba-tiba keempat bayi besar itu marah.
"Kakak tadi hiks manggil d-dia prince. Dio gak suka nada bicara kakak ke orang asing tadi!" jelas Dio dengan sesegukan.
Kinan paham sekarang. Cemburuan banget ya mereka ini, batin Kinan tidak habis pikir.
Cewek itu menghapus air mata Dio lalu memeluk cowok itu. "Maaf, ya."
"Jahat!"
"Iya, maaf, ya sayang."
Permintaan maaf Kinan yang tulus dan afeksi yang diberikan Kinan, membuat tangan Dio refleks membalas pelukan Kinan dan tangisnya pun semakin kejer.
Kinan mulai frustasi sekarang.
"Udah dong nangisnya ... Ayo, keluar. Di sini dingin." Dio menggeleng.
"Kamu mau sakit?" Dio menggeleng lagi.
"Yaudah ayo keluar."
"Gendong kakak."
Kinan menghela napas. Kalau nanti begini semua, bisa-bisa mati muda dia. Namun tak ayal, dia mengangkat Dio dan membawanya ke kasur.
"Turun, bobo."
Dio menggeleng cepat. "Gak mau!"
"Kakak mau ke bang Dinar dulu."
"Gak!"
"Nanti ke sini lagi, kakak kelonin gimana?"
Dio tertarik. "Bener?"
"Iya."
Akhirnya Dio turun dari gendongan Kinan dan merangkak ke atas ranjang. Menatap punggung Kinan yang menghilang di balik pintu.
Kinan menuju kamar selanjutnya, saat pintu terbuka sama seperti tadi, kamar itu kosong. Rasanya Kinan ingin melelang mereka semua ke janda kompleknya. Feelingnya mengatakan bahwa ada yang bersembunyi di dalam lemari. Dan benar saja! Dinar menyembunyikan wajahnya di antara lipatan kaki.
KAMU SEDANG MEMBACA
Brotherhood
Ficción GeneralProses Revisi Hanya memceritakan tentang kehidupan sehari-hari Kinan yang memiliki tingkat kemalasan dan kelesuan akut. Tidur, bermain, makan. 3 combo yang menyenangkan.
