Seperti kesepakatan tadi pagi, keluarga kecil tuan Anton Anggara berkumpul. Sang kepala keluarga sudah rapi memakai baju santainya, Raka juga sudah lebih fresh, sementara Ragil masih memakai seragam sekolahnya dengan kamera yang tergantung di leher.
"Kamu bawa-bawa kamera buat apa, Gil?" tanya Dian. Wanita itu menatap heran Ragil yang tengah mengambil foto Kinan dan Dinar. "Belum ganti baju juga."
"Oh, ini. Ragil tadi keasikan foto-foto, makanya kesininya telat belum sempet mandi juga, Tan." Jawab Ragil sembari tersenyum sungkan. Dia meletakkan kameranya di sebelah.
Selain pintar masak, ramah, dan baik hati, Ragil juga memiliki hobi fotografi—baru-baru ini. Sepulang sekolah tadi, niat awal mampir sebentar ke taman kota untuk belajar seputar fotografi, karena keantusiasannya membuat dia hampir lupa.
"Sejak kapan kamu jadi suka foto-foto? Bukannya kamu lebih suka mikirin styles nya daripada fotonya?"
"Iya, Tan. Ragil tertarik fotografi juga baru-baru ini."
"Kalo gitu, kalo kamu udah profesional bisa dong kita sekeluarga foto tanpa bayar? Biasanya, kan kita kalo mau photoshoot mesti bayar, mahal lagi. Duit Om habis nih," Anton ikut menimbrung.
Ragil mengangguk dan tersenyum. "Doain aja ya, Om."
"Pasti, dong. Tanpa kamu minta pun Om dan Tante selalu doa yang terbaik buat kamu," tutur Anton sungguh-sungguh. Ragil yang mendengar itu tersenyum simpul.
"Raka?" tanya sang empu.
"Kinan?" ganti Kinan yang bertanya setelah Raka.
"Pake nanya! Ya kalian juga dong," ucap Anton gemas yang mana itu membuat Raka tersenyum lebar dan tawa kecil dari Ragil.
"Dinar kenapa, Tan? Kok matanya gede gede?" tanya Raka salah fokus.
"Biasa lah. Pas dia bangun tidur adeknya gak di rumah ya begitu." Dian geleng-geleng kepala mengingat kejadian beberapa jam lalu saat putranya satu itu teriak-teriak memanggil Kinan berakhir menangis keras seperti orang kesetanan.
"Emang adek ke mana? Keliatannya mood adek juga bagus?" tanya Ragil. Dia bersyukur suasana hati adeknya bisa bagus seperti ini tidak seperti biasanya yang suram dan hampa. Tapi kenapa Ragil merasakan perasaan aneh? Karena adek kesayangannya keluar? Atau... karena orang lain dan bukan dirinya yang membuat suasana hati Kinan senang?
Arghh... entahlah. Ragil tidak mengerti.
"Tante gak tahu. Pulang-pulang udah begitu."
"Lama keluarnya?"
Dian mengangguk mengiyakan. Setelah mencomot keripik kentang di toples, Dian menjawab, "Sekitar 3 jam lalu. Dia aja baru sampe rumah 30 menitan sebelum Raka."
"Oh, gitu."
"Kenapa emang, Gil?" tanya Anton.
"Gakpapa, om." Ragil lanjut menatap Kinan yang sedang ditempeli Dinar sembari memainkan HP.
"Adek ke—"
"Kinan mau ngomong." Sela Kinan sembari meletakkan ponselnya dan menatap satu per satu keluarganya. Kemudian, matanya berhenti pada Raka yang duduk di samping Dinar. "Ini soal bang Raka."
"Huh? Abang?"
Kinan mengangguk sekali.
"Soal kejadian beberapa minggu lalu?" tebak Anton.
Kinan mengangguk lagi.
"Ada apa sayang?" tanya Dian.
"Abang mau tahu kenapa ortu abang..." Kinan sengaja menjeda ucapannya, dia takut menyinggung perasaan Raka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Brotherhood
Ficción GeneralProses Revisi Hanya memceritakan tentang kehidupan sehari-hari Kinan yang memiliki tingkat kemalasan dan kelesuan akut. Tidur, bermain, makan. 3 combo yang menyenangkan.
