Day 62 : Astrophile

50 1 0
                                        

"
-------
Andai boleh egois sekali saja.

― Raka

*****

Huftt...

Kepulan asap terbentuk di udara. Langit malam yang hanya menampakkan bulan malam ini, menemani seorang remaja yang tengah merokok memandang sang ratri.

"Kenapa gue dilahirin?

Kenapa gue mesti hidup?"

Bilah bibir itu mengeluarkan gumaman kecil, entah bicara dengan siapa.

"Kar'na lo hidup untuk mati," seseorang menyeletuk dari arah belakang. Duduk di sebelah remaja yang masih memanjakan matanya menatap hamparan ruang kosong di atas.

"Kalo ada masalah cerita ke gue aja. Itu pun kalo lo mau sih." Orang itu mengendikkan bahu.

Huftt...

Setelah mengepulkan asap yang menutupi sinar bulan, remaja itu tersenyum. "Gue gakpapa."

Orang itu mendengus kasar. Menggaruk leher belakangnya yang tidak gatal, merasa kesal dengan remaja yang satu tahun lebih muda darinya. "Ada kata-kata lain? Gue bosen denger itu dari lo!"

"Gue baik."

"Sama aja! Tck. Lo ada problem sama Ragil Dinar? Udah beberapa hari ini lo sering banget ke sini tanpa mereka berdua." Orang itu menyalakan korek siap membakar sebatang tembakau yang diapit di antara bibirnya. Dia menghisap rokok itu lalu menghembuskannya. "Sejak kapan lo ngerokok? Setahu gue lo gak dibolehin ngerokok sama adek lo itu, kan?"

"Hn, bukan problem sih sebenernya, bang. Gue butuh me time," ucap Raka sekenanya. Dia mematik rokoknya lalu menatap Vaga.

"Gaya lo me time. Me time kok di sini, udah banyak orang, rame suara geberan motor lagi," Vaga mencibir.

"Ini, kan me time versi gue. Belum pernah dengar, kan lo?" ucap Raka diiringi senyuman angkuh.

Plak.

"Lo kelewat kreatif! Orang bego insecure liat lo."

Raka mengelus kepala belakangnya yang terasa panas. Geplakan Vaga tidak main-main ngomong-ngomong. "Makasih pujiannya."

"Itu bukan pujian bego!" oktaf suara Vaga naik satu tingkat. Pemuda itu tidak habis pikir, mau dimana pun dan apapun keadannya, pelawak tetap pelawak. Padahal Vaga tahu betul, remaja SMA di sampingnya ini sedang mendapat masalah yang kelihatannya rumit.

"Lo belum jawab pertanyaan gue," lanjutnya.

Satu alis Raka terangkat, "Pertanyaan yang mana?"

"Wah, ingatan lo bagus ya," ujar Vaga datar. Dia mendongak, menatap langit malam yang tampak indah walaupun tanpa taburan sang kartika.

"Kali ini pasti bukan pujian." Raka menghisap tembakau itu lalu menghembuskannya.

"Itu pujian."

"Gak ikhlas banget, bang."

"Lo belum jawab, Raka."

Raka menghela napas, sungguh dia lupa. "Yang mana? Sumpah gue gak inget."

"Sejak kapan lo ngerokok? Dan siapa yang ngajarin lo ngerokok?"

"Ooh yang ituuu. Kenapa pertanyaannya jadi nambah?!"

"Tinggal jawab apa susahnya sih?"

Raka mencebikkan bibirnya, dia menatap Vaga serius. "Tapi jangan bilang siapa-siapa, ya?"

BrotherhoodCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang