"Dinar Kinan, bangun!!!"
Teriakan seorang wanita terdengar menggelegar memenuhi sebuah rumah.
Sedangkan pemilik nama masih bergelung dengan selimut dan saling berpelukan. Bahkan teriakan itu hanya membuat salah satunya melenguh, mengubah posisi yang tadinya miring menjadi terlentang, menarik selimut sebatas mulut.
Setelah beberapa menit tidak ada tanda-tanda keduanya bangun, Dian menyuruh seorang remaja laki-laki yang tengah duduk di sofa ruang tamu untuk menemui anak-anaknya di kamar.
"Kamu ke atas aja. Kalo belum bangun guyur aja pake air." Setelah mengucapkan itu, Dian kembali ke dapur.
Asta mengangguk dan menjalankan suruhan ibu dari temannya juga adiknya. Pertama ke kamar Dinar, namun saat dia membuka pintu, tidak ada siapa-siapa jadi dia memutuskan ke kamar sebelah.
Begitu pintu terbuka, dia langsung disuguhkan pemandangan yang membuatnya menghela napas panjang.
"Adek, Dinar, bangun."
Keduanya masih terlelap dengan damainya tanpa merasa terganggu.
Karena malas berlama-lama dan ini juga sudah jam setengah enam, Asta mencapit hidung kedua orang itu.
Dinar melenguh, mengindari tangan Asta, dan mengerjapkan matanya menyesuaikan cahaya.
Berbeda dengan Kinan yang menepis tangan Asta dan menggeliat menyamankan posisi. Enggan bangun.
"Asta? Ngapain di sini?" tanya Dinar dengan suara serak. Dia masih terlihat mengantuk.
"Bangun, sekolah."
"Sekarang jam berapa?"
"Setengah enam."
Dinar mengangguk sebagai jawaban. Dia masih diam ditempat sembari mengumpulkan nyawanya yang masih berkeliaran.
"Mandi."
Dinar mengangguk lagi. Berdiri, berjalan gontai kembali ke kamarnya sendiri kemudian mandi.
Asta beralih menatap Kinan. Dia menatap lamat-lamat wajah Kinan, lalu matanya jatuh pada kain kasa yang melingkar di kepala cewek itu. Sejenak Asta tersulut emosi.
"Hei, bangun." Asta menepuk-nepuk pelan pipi Kinan.
"Mmmm... satu jam lagi."
"Gak. Lo masih ada tugas."
"Apa?"
"Tes psikologi."
"Capek."
"Bangun, mandi."
Kinan mendesah malas saat tangannya ditarik agar duduk. Dia akan merebahkan kembali tubuhnya tetapi langsung ditahan Asta.
"Mandi!" tegas Asta.
Cewek itu menghela napas panjang. Sungguh dia malas sekali. Semalam mengerjakan kertas-kertas sialan itu. Belum lagi, dini hari tadi sang kakak membangunkannya karena merasa haus dan tidak berani mengambil minum sendiri di bawah. Kinan menolak, membuat Dinar merengek dan kembali menangis.
Kinan berdiri, mengambil handuk di dekat almari lalu berjalan menuju kamar mandi dan memulai ritual paginya.
Berangkat sekolah, Kinan bersama Asta. Ini hari terakhir program tes psikolog-nya. Karena sekolah terakhir di SMK Pratama, sekolahnya dulu maka dia dijemput Asta.
Mobil Asta diparkiran di tempat khusus parkir mobil.
"Langsung ke ruang OSIS?" tanya Asta sambil melepas sabuk pengaman yang dipakainya setelah itu beralih yang dipakai Kinan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Brotherhood
Narrativa generaleProses Revisi Hanya memceritakan tentang kehidupan sehari-hari Kinan yang memiliki tingkat kemalasan dan kelesuan akut. Tidur, bermain, makan. 3 combo yang menyenangkan.
