Day 80 : Raja's Blank Stare

38 1 0
                                        

"Nata!" sentak Asta berharap Raja kembali. Ya, Asta bukan Kala. Bahkan sesekali dia menepuk-nepuk pipi Raja sampai pipi cowok itu memerah. Asta sempat kaget karena ini pertama kali baginya memanggil Raja dengan sebutan Nata. Tidak mengerti kenapa? Panggilan itu keluar begitu saja dari bibirnya.

"El, panggil Ragil."

Ganiel langsung saja menaruh kepala sang kembaran ke sofa dan beranjak untuk memanggil Ragil. Sementara itu, Galih merasa terganggu karena suara Asta. Dia langsung mendudukkan diri dengan mata yang masih mengantuk.

"Kenapa sih, Ta? Berisik tau!" sungut Galih.

Terdengar suara derapan langkah yang terburu.

"Raja kenapa?" tanya Ragil tanpa basa-basi. Dia lebih mendekat, menatap Raja beberapa saat lalu menatap Galih dan terakhir Asta. "Telfon dokter!"

Galih yang sudah cukup sadar, menoleh pada orang di sebelahnya. Didetik itu Galih terkejut bukan main. Dia memekik tidak percaya, "Raja!"

Dia mendekap Raja sambil menangis keras. Galih menggeleng di balik leher Raja. "Raja! Jangan gini lagi..."

"Raja, sadaaaar. Galih mohon!"

"RAJA..." lirihnya.

"Galih, tenang dulu," ucap Ragil. Dia menarik Galih tetapi cowok itu malah semakin mendekap Raja dan histeris. Sedangkan Raja masih tidak membuat pergerakan sedikitpun. Matanya menatap ke depan dan kosong.

"RAJAAA. Sadar gak?!! Kalo gak sadar Galih gigit mampus!" ancam Galih. Karena sama sekali tidak mendapat respon, Galih menggigit leher Raja dengan kuat. Bahkan sudah sampai mengeluarkan darah, Raja tetap tidak memperlihatkan respon sedikitpun.

"Galih!" Ragil kaget melihat gigitan Galih. Dengan paksa dia menarik cowok itu. "Tenang dulu. Bentar lagi dokter dateng."

"Ngapain panggil dokter? Raja gak akan sembuh cuma karena resep dari dokter! Raja cuma butuh adek! Cuma adek yang bisa sembuhin Raja, Ragil!"

"Hm? Kenapa gak bilang daritadi, sih?" Ragil mengusak rambut Galih gemas. Dia mengambil ponsel di saku celananya. "Bentar, gue telfon adek dulu."

"Percuma," gumam Galih seperti berbisik.

"Apa?" tanya Ragil karena tidak bisa mendengar apa yang Galih ucapkan. "Ah, halo, dek."

"Adek bisa ke markas sekarang? Nanti biar dijemput."

"Udah, pokoknya adek kesini dulu. Raja butuh Adek."

"Iya. Adek siap-siap dulu, nanti ada yang jemput."

"Love you, sweetie."

Panggilan berakhir. Ragil mengernyit bingung, tumben sekali Kinan tidak membalasnya.

Ragil menghela napas, menatap Raja prihatin. "Senderin dulu."

Dengan dibantu Asta, Ragil menyenderkan Raja pada headboard.

"Coba tanyain ke yang lain, ada yang mau jemput adek gak?" suruh Ragil.

"Gue aja," jawab Ganiel.

Ragil mengangguk. "Pake mobil aja. Diluar panas."

"Hm."

Ganiel bergegas menjemput Kinan di rumahnya. Sepeninggalan Ganiel, Ragil ikut merapat di kasur dan menatap Galih intens.

"Galih," panggil Ragil.

"Hm?" gumam Galih tanpa mengalihkan pandangannya dari jari jemari Raja yang dia mainkan.

"Galih tahu sesuatu, kan?" tanya Ragil. Tidak, lebih tepatnya pernyataan.

"Apa?" Galih balas menatap Ragil.

BrotherhoodCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang