Selesai pemeriksaan, empat orang keluar dari ruangan. Berhenti di depan ruang itu.
"Mari ikut saya!" ucap seseorang yang memakai jas putih khas seorang dokter. Beliau berjalan mendahului.
"Biar gue aja. Kalian tunggu di sini ya." Ragil mencium pipi Kinan dan kembali berkata, "Adek jangan kemana-mana."
Dinar dan Kinan memandang kepergian Ragil sejenak. Selanjutnya, mereka duduk di kursi panjang yang tersedia.
Di sisi lain, Ragil sudah masuk ke ruangan dokter untuk membicarakan hasil check-up tadi. Keduanya saling pandang dalam diam. Sampai suara helaan napas panjang sang dokter terdengar.
"Hari itu ... kalian sudah memilih metode pengobatan ini dan kalian sudah mengetahui resikonya, benar?"
"Ya. Kami sangat tahu. Memangnya ada apa, dok?"
"Jika transfusi darah ini terus dilanjutkan maka bisa sangat merugikan. Kekebalan tubuhnya semakin menurun atau bisa jadi akan ada penumpukan zat besi pada sel darah merah yang mana itu sangat membahayakan."
Ragil merasa seakan tersambar petir di siang bolong. Secepat ini? Kenapa harus secepat ini?
"Jadi apa yang bisa kami lakukan, dok?"
Wajah dokter wanita itu bertambah serius. Dia berkata dengan mantap, "Dia harus..."
***
Sepulang dari rumah sakit, mereka mampir ke sebuah rumah sakit jiwa. Berkunjung untuk menemui seseorang yang sangat Kinan rindukan. Tidak jauh dari mereka, tepatnya di depan sebuah ruangan yang mereka tuju ada beberapa perawat yang tampak kebingungan dan panik.
"Ada apa ini?" tanya Ragil setelah sampai. Dapat didengar suara bantingan dan teriakan dari orang di dalam.
"Ini, pasien di dalam mengamuk. Lihat dia terkena barang-barang yang di lempar saat mencoba menenangkannya," jelas salah seorang perawat perempuan dan menunjuk seorang laki-laki yang menjadi korban.
Tanpa babibu, Kinan turun dari gendongan Dinar dan akan membuka pintu. Namun sebelum itu terjadi Ragil sudah lebih dulu menyela.
"Biar abang aja."
Para perawat di sana meringis mendengar suara barang-barang pecah.
"PERGI! JANGAN SENTUH!!"
"AAARGHH ... PERGIII!"
"Zico. Zi ... ini Ragil." Ragil berjalan pelan menuju pemuda yang dipanggil Zico itu sambil menghindari benda-benda yang melayang ke segala arah dan berakhir menghantam tembok.
"TOLONG! PERGI ... PERGIII!!"
"JOEEEE."
Ragil berhasil sampai, sejenak dia terkejut karena Zico memanggil nama itu. Namun, dia memilih abai. Ragil menahan tangan Zico yang akan melempar sebuah vas bunga. Mengambil vas bunga itu dan berucap, "Zico, ini Ragil. Lihat, ini Ragil."
Zico menatap Ragil. Matanya berkaca-kaca dengan sorot kosong. Dengan gerakan cepat dia memeluk Ragil erat. "Ragil ... Zico takut. Yang baju item-item datang."
"Mereka udah gak ada, udah pergi semua. Kamu tenang aja, ya." Zico mengangguk sebagai balasan.
"Bang Zico."
Pemuda itu langsung menoleh setelah mendengar suara familiar yang memanggil lembut namanya itu. Matanya melebar dan lebih berair. Satu persatu bulir air matanya turun membasahi pipi putihnya.
"Hai. Gak kangen adek?" Kinan berjalan ke arah Zico.
Dengan cepat Zico menubruk tubuh Kinan. Menangis keras didekapannya. "Kenapa lama gak kesini? Zizi kangen~"
KAMU SEDANG MEMBACA
Brotherhood
General FictionProses Revisi Hanya memceritakan tentang kehidupan sehari-hari Kinan yang memiliki tingkat kemalasan dan kelesuan akut. Tidur, bermain, makan. 3 combo yang menyenangkan.
