Day 45 : Sircuit Balap

55 2 0
                                        

Jam 9 malam, Raka diperbolehkan pulang oleh dokter. Saat ini dia sedang tidur di kamar tamu rumah Anton.

Tidurnya sangat damai.

Cklek.

Pintu kamar itu terbuka secara pelan. Menampilkan seseorang yang membukanya, dia Kinan. Cewek itu berjalan malas ke arah Raka setelah menutup pintu kembali.

Membungkuk, tangannya bergerak mengelus surai hitam Raka. Puas memandangi wajah Raka, Kinan mendekatkan wajahnya sampai dahi keduanya bersentuhan. Dia memejamkan mata untuk beberapa saat.

Kemudian, Kinan lanjut mencium kening Raka dan mencium kedua pipinya. Kinan mengelus rahang Raka dan bergumam, "Cepet sembuh."

Saat Kinan akan menegakkan tubuhnya, tiba-tiba Raka memeluknya erat menahan gerakannya. Secara otomatis lengan tangan bawah Kinan menahan tubuhnya agar tidak terlalu menimpa Raka.

"Jangan perlakuin abang kayak tuan putri yang kesenggol dikit langsung koma, dek," Raka protes.

Kinan tertawa kecil. Sekali lagi dia mencium pipi Raka gemas. "Enggak."

Raka mengendurkan pelukannya, tangannya masih setia melingkar di balik punggung Kinan.

"Adek ketawa?"

"Hm? Enggak."

"Tapi tadi—"

"Mending tidur lagi," sela Kinan.

Raka tidak menjawab. Dia sibuk memandangi wajah Kinan yang jaraknya sangat dekat dengannya. Raka tidak bisa menahan untuk tidak berkomentar, "Adek, cantik."

Kinan tersenyum manis.

Raka tidak kuat!

Tolong! Ini terlalu manis.

Raka malu. Wajahnya berubah merah.

Cepat-cepat dia melepas pelukannya, mengubah posisi menghindari Kinan sambil menarik selimut sampai batas hidung. Wajahnya semakin memerah mengingat kembali senyum si pemalas.

Untuk entah keberapa kalinya, Raka terpana. Senyum adiknya memang manis sekali. Dari sekian banyak cewek yang pernah Raka temui tidak ada yang semanis ini. Sebab hanya Kinan yang punya.

Sedangkan Kinan bingung. Kakaknya itu kenapa? Dia melakukan sesuatu yang salah?

Sudahlah. Kinan lelah berpikir. Lebih baik dia ikut merebahkan dirinya di kasur dan siap menyelami dunia bawah sadar. Dia memiringkan tubuhnya, bertopang kepala. Satu tangannya yang bebas tergerak mengelus rambut halus Raka sambil memandangi wajah Raka yang sedikit memerah.

"Abang, hadap sini," suruh Kinan. Dia menarik pelan bahu Raka membuat Raka berada di posisi telentang dengan selimut yang menutupi wajahnya menyisakan bagian mata keatas. Mereka bersitatap mata dalam diam. Sampai sebelum Raka yang tiba-tiba saja menutup seluruh tubuhnya.

Hatinya berdenyut kencang. Malu karena ditatap intens oleh Kinan. Mana Kinan cantik banget lagi, batin Raka. Kulit putihnya kontras dengan semburat merah yang muncul di wajah Raka. Bahkan, telinganya sampai ikut memerah.

"Jangan gini." Kinan menurunkan selimut membuat mereka kembali bersitatap. "Abang ini kenapa? Kinan ada ngapa-ngapain abang?" tanya Kinan penuh keheranan.

Raka hanya menggeleng kecil dengan lugu. Lalu cepat-cepat dia memiringkan tubuh, menyembunyikan wajahnya ke dada Kinan.

Tingkahnya itu tak lepas dari penglihatan Kinan. Kinan dibuat gemas. Benar-benar seperti anak kecil. Dengan sunggingan tipis, tangannya kembali terulur untuk mengelus surai lembut sang kakak. Memberikan kehangatan dan kasih sayang pada Raka sepenuhnya.

BrotherhoodCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang