Menyelonjorkan kakinya, menyamankan posisi. Menatap layar ponselnya datar, mengucek mata kanannya. Cewek yang masih terjaga pukul satu malam itu menguap, lalu meletakkan ponselnya—mati.
Kali ini dia menatap perutnya. Matanya bergerak menelusuri ke segala arah berharap dapat menemukan beberapa cemilan atau minuman.
Tidak ada.
"Ngh..." manik layu itu menatap malas. Dia kembali melihat perutnya yang berbunyi, mengelusnya.
Lapar.
Semua sudah tidur. Cewek berambut sepunggung itu masih dengan posisinya.
Menelan ludah. Berkedip dua kali. Menelan air liurnya lagi. Tenggorokannya terasa sangat kering. Menoleh ke samping kanan, melihat ada tiga susu kotak tergeletak. Tangannya bergerak meraih salah satu susu itu untuk memastikan apakah sudah dia minum atau belum? Siapa tahu, kan?
Namun, hasilnya nihil, kotak susu itu kosong. Tidak tersisa sedikitpun. Dia sudah menghabiskan semua susu kotak berukuran sedang tersebut, tapi kenapa masih terasa kering?
Haus.
Mungkin dia harus pergi ke dapur. Namun, dia terlalu malas berjalan. Jarak kamarnya ke dapur tidak terlalu jauh, tapi... tetap saja merepotkan dan menguras banyak energi.
"Nonton TV aja, ah." Namanya Kinan. Umur 16 tahun, yang sudah menjadi siswi berseragam putih abu-abu satu minggu lalu. Dia bersekolah di SMK Pratama, di Jakarta. Walaupun SMK, tetapi sekolah ini cukup bagus dan diidam-idamkan.
Mengabaikan perutnya yang lapar dan tenggorokannya yang kering. Dia bisa melakukannya pagi nanti. Kinan ingin mengambil remote. Tangannya terulur untuk mengambil, tidak sampai.
Tidak jadi.
Dia malas pindah posisi. Kinan baru keluar dari rumah sakit, lebih tepatnya tiga minggu yang lalu. Setelah tinggal disana selama hampir enam bulan.
Tidak bisa tidur. Kedua ponselnya mati, laptopnya entah dimana. Dia lupa. Mungkin di meja belajar?
"Gak punya pilihan." Kinan beranjak dari tempat tidur. Berdiri perlahan, ambruk. Kakinya kesemutan.
"Oke, Kinan semangat!" menyemangati diri sendiri dengan nada datar, lalu berdiri lagi, berhasil. Berjalan gontai keluar kamar. Malam ini... setelah sekian lama tidak berjalan jauh—tidak lebih tepatnya hanya sekitar 4 hari, apakah dia sanggup?
🍪🍪
Menuruni tangga pelan dengan keadaan gelap tanpa penerangan sedikitpun. Terpeleset, Kinan terjatuh. Tangan kirinya refleks memegang railing. Dan satunya lagi sedikit terluka akibat menahan tubuhnya, bergesekan dengan ujung lantai tangga. Kaki kanannya sedikit terkilir.
Kinan berdiri, menahan rasa sakitnya. Berjalan sedikit pincang sembari berpegangan pada pagar tangga agar tidak jatuh lagi.
Menghela nafas, "Untung gak gelinding." monolognya saat sudah sampai diakhir tangga.
Nafasnya habis. Menghirup udara dalam-dalam dan membuangnya melalui mulut dengan perlahan. Memegangi siku yang terluka. Perjalanan ke dapur sudah seperti mendaki gunung. Menghabiskan waktu 20 menit, akhirnya sampai di dapur.
Menuangkan air putih ke dalam gelas. Membuka kulkas, berjongkok lalu mengambil kue sisa miliknya tadi sore. Menaruhnya di meja. Kinan duduk, melahap habis kue itu. Kemudian dia meneguk air hingga tandas. Kinan makan masih dalam keadaan gelap gulita. Meletakkan kepalanya di meja, mengistirahatkan diri sejenak.
Sekarang dia harus menaiki tangga untuk bisa kembali ke kamarnya. Cewek bermimik datar dan lesu itu menghela napas berat.
Dia mulai berandai-andai.
Andai saja tadi membawa selimut, dirinya tidak masalah tidur di sofa ruang tamu. Demi menghemat energi, dia mau melakukan apapun. Namun, sudah terlanjur mau bagaimana lagi, kan.
"Coba aja, bisa teleport... nggak usah repot-repot jalan."
Sial.
Kinan menegakkan tubuhnya, lalu berdiri. Energinya sudah bertambah walaupun sedikit. Dia akan kembali berjalan.
Brugh!
Tersandung, Kinan terduduk di kursi semula. Dia membungkuk, memegangi jari kelingkingnya yang berciuman dengan kaki meja.
"Sakit." gumam Kinan disertai ringisan kecil. Matanya sedikit berkaca-kaca. Jangan salahkan mejanya, ini salahnya sendiri karena tidak berhati-hati.
Kinan kembali berdiri. Dia merasa haus lagi. Menuangkan air, lalu meminumnya. Setelah itu, dia melanjutkan tujuannya.
Sampai di ruang keluarga. Berhenti, berpegangan pada sofa. Dia merasa tenggorokannya kering lagi. Yang benar saja! Dia sudah hampir setengah jalan. Menyebalkan sekali kalau harus kembali ke dapur.
Lelah.
Rasanya dia ingin sekali menangis dan menjerit, tapi malas, buang-buang energi.
Masih dengan posisi berdiri, enggan bergerak. Kinan meratapi nasibnya.
Seandainya, di kamar miliknya ada dapur dia tidak perlu susah-susah naik turun tangga.
Jika saja sekarang pagi, siang, atau sore dia tidak harus repot-repot mengambil makanan dan minuman sendiri. Sebab, ada kakaknya yang dengan setengah hati mau mengambilkannya.
"Capek banget!" Kinan melanjutkan jalannya yang sempat tertunda.
Dug.
Jidatnya bertabrakan dengan tembok pembatas antara ruang keluarga dan ruang tamu, dia terhuyung ke belakang dua langkah. Meringis saat kakinya yang terkilir menginjak lantai terlalu keras. Kinan mengelus dahinya, "Sejak kapan disini ada tembok?!"
Kinan menaiki tangga sangat pelan seperti siput. Satu persatu tangga berhasil Kinan lewati dengan susah payah. Akhirnya sampai... sampai di lantai dua.
"Sial banget malem ini." dia berdiri di depan kamar sang Kakak untuk mengatur nafas. Keringat mengucur deras. Luka dimana-mana. Penampilan yang kacau.
Melangkah ke arah kamar miliknya dan membuka pintu. Dia ingin segera tidur, mengistirahatkan jiwa dan raganya. Setelah kesialannya malam ini.
Eh?
Kinan mendengar suara. Dia berhenti, diam di ambang pintu. Menutup mata dan mempertajam pendengarannya.
Ada.
Ada suara dari ruang sebelah. Kinan membuka matanya, melepaskan pegangannya pada gagang pintu, lalu melangkah pasti ke arah suara itu berasal. Menempelkan telinganya di pintu, untuk memastikan sekali lagi.
Bisa saja itu suara hantu.
Namun, bukan. Suara ini... dia mengenalnya.
"Nggak, jangan!" kurang lebih seperti itu yang didengar Kinan.
Dia mencoba membuka pintu tersebut, terbuka. Nampak seorang cowok yang sedang meringkuk di atas kasur. Tidak memakai baju maupun selimut, hanya mengenakan celana boxer warna hitam.
"Maaf." Namanya Dinar, kakak kandung Kinan. Usianya 18 tahun, salah satu siswa populer di SMA Atalanta. Sekolah yang cukup terkenal juga di Jakarta. Kinan dan Dinar memang beda sekolah. Itu kemauan Kinan.
Alisnya berkerut, keringat dingin mengucur deras. Mencengkeram seprai kuat. Terlihat seperti ketakutan, gelisah, dan tertekan.
"Maafin, abang."
Kinan mendekat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Brotherhood
Fiksi UmumProses Revisi Hanya memceritakan tentang kehidupan sehari-hari Kinan yang memiliki tingkat kemalasan dan kelesuan akut. Tidur, bermain, makan. 3 combo yang menyenangkan.
