"Dek..."
"Hm?"
"Mama marah..." Dinar terisak. Saat ini mereka tengah berada di kamar Kinan. Dinar duduk di karpet sementara Kinan duduk di sisi ranjang. Cewek itu akan mengucir rambut Dinar bergaya apple hair. "Mama marah~"
"Mama gak marah."
"Mama diemin abang, deeek. Abang takut~"
"Kok bisa?"
"Tadi mama nawarin abang, mau dimarahin atau diemin. Tapi abang gak jawab."
"Kenapa gak dijawab?" Kinan merapikan rambut belakang Dinar. Dia selesai mengucir sang kakak.
"Abang masih bete. Agil jahat." Dinar semakin terisak. Dia menggigit bajunya, mengusap mata menggunakan bajunya itu lalu untuk menutupi setengah wajahnya. Kegiatan itu dilakukan Dinar berulang.
"Ssttt, sini adek peluk." Dinar berbalik. Mendongak menatap Kinan lalu menerjang tubuh sang adik. Tubuh Kinan ambruk ke belakang ditindih Dinar. Cewek itu memeluk Dinar dengan sangat erat.
"Adek jangan pergi ... Adek gak boleh ninggalin abang," rengek Dinar lirih.
"Siapa yang mau pergi, hm?"
"Adek gak boleh pergi~" Dinar semakin menangis. Kinan jadi merasa iba.
"Adek gak akan pergi. Adek gak kemana-mana, abang tenang aja." Kinan mengelusi rambut Dinar.
"Janji?"
Kinan terkekeh gemas. "Janji."
🍪🍪
"Kalian ini sebenernya kenapa lagi? Gelut kok tiap hari," cibir Raja. Dia mencomot keripik yang berada di toples atas meja.
"Agil gila," jawab Raka sekenanya. Dia juga tengah asik memakan cemilan di hadapannya.
"Lo apain Dinar lagi sih, Gil? Heran gue. Sampe manggil polisi lho dia. Lama-lama kalo lo buat dia nangis lagi bisa-bisa dia manggil agen FBI."
"Langsung rusuh satu dunia," sambung Galih. Dia rebahan di sofa dengan paha Kala sebagai bantal. Menyodorkan bungkus chiki pada Kala karena dia tidak bisa membukanya. Kala menerima dan membukanya setelah itu dia kembalikan pada Galih.
"Sekali lagi, gue rebut," ucap Kala tegas.
Ragil menghela napas. "Gue kelepasan. Sorry banget, gue lagi banyak pikiran. Gue usahain ini gak terjadi lagi. Dinar cuma punya gue, gak akan gue serahin ke orang lain."
"Dih? Sok-sokan punya gue punya gue. Kalo lo emang sayang sama Dinar, lo gak akan lakuin hal kayak tadi," sinis Raka. Dia juga masih pundung sebenarnya. "Gue benci sifat lo yang itu. Tapi gue lebih benci sama diri gue sendiri yang gak bisa apa-apa waktu sahabat gue sendiri kayak gitu."
"Jangan benci diri lo sendiri. Gue gak suka," protes Ragil.
"Siapa lo ngatur-ngatur gue?"
"Ka." Ragil memeringati Raka. Dia menatap tajam sahabatnya itu.
Raja dan Kala memutar bola matanya malas. Kalau lagi akur aja nempel banget kayak perangko, beda kalau lagi berantem.
"Udah kenapa sih? Gue panggilin pembunuh bayaran mampus lo pada," Raja yang mulai jengah menggerutu.
"Diem deh lo," ucap Raka dan Ragil bersamaan.
"Ngapain ikut-ikut!"
Raka melotot pada Ragil. "Jangan ngikutin!"
"Apaan sih."
"Diem lo!"
"Lo yang diem."
Itu semua mereka ucapkan bersamaan. Raka semakin kesal dibuatnya. Dia melempar bantal ke arah Ragil sambil berteriak kesal, "Jangan ngikutin!!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Brotherhood
Fiksi UmumProses Revisi Hanya memceritakan tentang kehidupan sehari-hari Kinan yang memiliki tingkat kemalasan dan kelesuan akut. Tidur, bermain, makan. 3 combo yang menyenangkan.
