Day 20 : Dinar Jealous

104 3 0
                                        

Di sebuah kamar mandi terdapat lima bilik. Di depannya terdapat kaca panjang dan wastafel di setiap depan pintu. Ada sebuah tanda di pintu depan yang menandakan bahwa itu adalah kamar mandi laki-laki.

Salah satu dari kelima pintu bilik itu tertutup yang berarti ada orang di dalamnya. Tak lama kemudian, orang itu keluar sambil mengelusi perutnya lega.

"Yaampun, akhirnya bisa keluar juga."

Cowok itu mencuci tangan di wastafel. Setelah mematikan kran, dia melihat pantulan dirinya sendiri di kaca. Bergaya dengan menaruh ibu jari dan telunjuknya ke dagu diiringi senyuman lebar.

"Anjir, mau diliat darimana pun gue tetep cakep."

"Bahkan lebih cakep dari Dinar," ucapnya dengan wajah sombong. Sebelum kemudian, matanya melebar dan mulutnya sedikit terbuka. Seperti terkejut akan sesuatu.

Dinar?

Sial, dia melupakan sesuatu yang sangat penting.

Cowok itu buru-buru berbalik dan berlari. Batinnya terus berdoa agar Dinar belum bangun dari tidurnya.

"Jangan bangun dulu, plis!" gumam Raka.

Sesampainya di UKS langsung saja dia masuk dan membuka gorden dengan sedikit kasar. Dia menatap seseorang yang masih terjaga dimimpinya.

Dia membungkuk, kedua tangannya ditaruh pada lutut sebagai penyangga tubuhnya. Napasnya terputus-putus. "Untung belum bangun."

"Kenapa?"

Raka menegakkan tubuhnya karena terkejut. Setelah seperkian detik diam dengan keterjutannya, dia membuang napas sembari memegang dadanya.

"Gue lupa ada, elo." Ucap Raka sambil menatap cowok yang tadi bertanya.

"Hm."

"Dia kebangun gak tadi?"

"Enggak."

"Syukurlah."

Raka akan mendudukkan bokongnya ke brankar yang awalnya sempat dia tempati. Namun, urung karena mendadak terdengar suara Dinar yang terisak di tidurnya.

Cowok yang sedari tadi membaca buku juga langsung mengalihkan perhatiannya pada Dinar.

Raka mendekat, tangannya bergerak akan menepuk pipi Dinar dengan tujuan untuk membangunkan Dinar tetapi dia ingat pipi cowok itu sedang sakit. Dia beralih menepuk-nepuk bahu Dinar.

"Nar, bangun."

"Adek," panggil Dinar semakin gelisah.

"Dinar, bangun dulu."

"Adek, maaf."

Dinar terus meracau menyebut sang adik.

"Dinar, woi."

Kali ini Raka sedikit mengguncang tubuh Dinar. Dan berhasil, Dinar mulai membuka matanya perlahan.

"Raka," panggil Dinar lirih.

"Iya, gue di sini."

Dinar mendudukkan diri, menatap Raka lama.

"Kenapa sih diem aja?" gerutu Raka gugup. Dia mengalihkan pandangannya, mencoba terlihat biasa saja.

"Raka habis ngapain keringetan gitu?" tanya Dinar dengan wajah lugunya.

Raka dan cowok yang membawa buku itu menggigit pipi bagian dalamnya.

Makhluk menggemaskan dari planet mana ini?!, jerit keduanya dalam hati.

"Oh, gue habis lari keliling lapangan. Gabut soalnya," jawab Raka asal.

BrotherhoodCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang