"Adek, buka..."
"Adek." Tampaklah Kinan yang melirik Raka dari atas, wajahnya datar seperti biasa.
"Ngapain ke sini?"
Raka menunduk, tiba-tiba napasnya terasa sedikit memberat. Tatapan Kinan menusuknya tajam. Dia takut, tapi dia lebih takut jauh dari Kinan. "Maaf."
Raka memeluk satu kaki Kinan. Tangisnya kembali pecah. "Aku gak bisa jauh dari adek. Aku butuh adek! Huaaa, maaf."
Kinan berjongkok, menyadari cara bernapas Raka tidak normal. Menangkup kedua pipi Raka, matanya menatap teduh mata Raka yang mengkilat basah. Ibu jarinya mengusap lembut air mata di pipi cowok itu. "Ssttt, nanti jadi sesek."
Raka terisak pelan, tubuhnya lunglai didekapan Kinan. "Maafin, Raka."
"Kenapa?" Raka menggeleng menjawab. Dia tidak mengerti konteks pertanyaan sang adik.
Kinan mengalihkan atensinya, mengambil ponsel Raka yang berbunyi alunan musik berbahasa Inggris. Terpampang nama Vaga, Kinan mendekatkan ponsel ke telinga.
"RAKA! KEMANA LO, HAH?! LO BELUM SEHAT BEGO!"
Kinan terdiam. Menatap Raka yang tampak bergetar.
"LO BUDEK YA?!"
"Kenapa?"
"Eh. Hehehe, h-hai." Suara Vaga terdengar kikuk.
"Asma?"
"Oh, iya." Raka panik, dia ingin merebut ponselnya dengan bergantung pada sisa tenaganya, tetapi Kinan lebih dulu menjauhkannya. "Tadi malem dia ngerokok habis empat batang terus sempet pingsan juga. Sori banget, gue baru tahu kalo dia punya asma."
Kinan mengangguk meskipun tahu orang yang diajak bicara tidak melihat. "Makasih."
"Oke. Sori ya gue beneran gak tahu soalnya."
"Gakpapa." Kinan langsung saja memutus telepon sepihak.
"Jadi, hukuman apa yang pantes?" Kinan memasukkan ponsel itu ke saku celananya.
"Maaf."
Kinan berdecak. Menatap Raka yang menunduk dan masih terisak sejenak, lalu menuntun cowok itu agar berdiri dan membawanya ke ruang TV.
🍪🍪
Pagi ini, Dinar dibuat cemas karena tidak melihat Raka di kelas. Walaupun rasanya tidak tahan ketika melihat Raka menjauh, tapi lebih tidak kuat lagi kalau sama sekali tidak melihat Raka.
"Raka gak berangkat," bisik Adi dari bangku depan Dinar.
"Iya, kok tumben? Dinar tahu gak Raka kenapa?" tanya Galih juga dengan berbisik. Takut kalau guru di depan mendengarnya, nanti bisa-bisa dimarahi.
Dinar menoleh lalu menggeleng. Dia memandang Galih yang duduk di sebelahnya. "Galih pendek, emang dari sini keliatan?"
Sontak Adi menutup mulutnya menahan semburan tawa yang hampir saja terlepas. Berbeda dengan Galih yang tertohok karena ucapan tanpa dosa Dinar, bibirnya melengkung ke bawah, tidak lupa matanya yang mulai berair.
"Keliatan kok! Kenapa?! Gak suka Galih di sini?" ketus Galih.
Dinar berkedip, menggeleng dua kali lalu berkata, "Bukan gitu. Soalnya, Galih..." Tangan Dinar bergerak-gerak di atas kepala Galih yang hanya sebatas lehernya ketika duduk. "Pendek banget."
Sekali lagi, tawa Adi hampir meledak. Tubuhnya sampai bergetar menahan tawa. Tega banget memang si Dinar, bisa-bisanya diulangi lagi kata Galih pendek-nya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Brotherhood
General FictionProses Revisi Hanya memceritakan tentang kehidupan sehari-hari Kinan yang memiliki tingkat kemalasan dan kelesuan akut. Tidur, bermain, makan. 3 combo yang menyenangkan.
