Matahari berada tepat di atas kepala. Kendaraan-kendaraan berlalu lalang di jalan raya menciptakan kepulan polusi udara.
Minggu yang terik.
Saat ini Raka, Kinan, Ragil, Dinar, dan Dio tengah berada di parkiran rumah sakit.
"Di mana, dek?" tanya Raka tidak sabaran.
"Masuk."
Ketiga laki-laki itu berjalan memasuki kawasan rumah sakit. Kinan digendong Ragil dan Dio digendong Raka. Sementara Dinar berjalan di tengah-tengah kedua sahabatnya.
Mereka berjalan sesuai arahan Kinan.
"235," ujar Raka membaca papan angka di depan pintu sebuah ruangan. "Ini?"
"Hm."
Raka memegang handle pintu dan dengan pasti membukanya. Terpampanglah seorang wanita terbaring di atas keranjang rumah sakit.
"Turun," pinta Dio. Sebenarnya dia masih belum sepenuhnya sembuh, tetapi memaksa ingin tetap ikut. Bukan untuk menjenguk wanita yang menjadi ibunya itu, dia hanya merasa bosan jikalau harus berbaring terus.
Setelah diturunkan dia mundur beberapa langkah meremat tangan Kinan dan berkata, "Gak suka."
"Mau keluar?"
Dio mengangguk.
"Sama bang Dinar."
Dio mengangguk lagi. Menatap Dinar dan mengajaknya, "Ayo, bang."
"Luar aja, bang," celetuk Kinan yang melihat Dinar menolak.
Wajah Dinar tertekuk tidak terima membuat Kinan gemas. Sangat manis. Dia mengamati Dinar yang berjalan keluar dengan wajah yang tidak mengenakkan.
"Tidur?"
Kinan menoleh dan berjalan beriringan bersama Ragil menghampiri Raka setelah mendengar ucapan pelan cowok itu.
"Koma ... mungkin."
Raka menatap lamat-lamat wanita yang sialnya adalah orang yang mengandungnya dulu. Lebih sialnya lagi, dia harus memanggilnya ibu. Namun, atas semua perlakuannya terhadap anak-anaknya sendiri, yang katanya surga ditelapak kaki ibu itu sepertinya perlu dipertanyakan. Terlintas dibenak Raka, bagaimana kalau surga itu dipindahkan saja pada ibu sahabatnya, maka dia akan sangat menyayangi dan menghormatinya. Dia juga tidak akan durhaka.
"Dimana pak tua itu?" tanya Raka setelah termenung cukup lama.
Kinan mengendikkan bahu.
"Dek!"
Kinan menghela napas. "Penjara."
"Hah!?"
Kinan berdecak. "Males jelasin."
"Jangan bercanda, dek." Sahut Ragil sambil menepuk pelan kepala cewek itu.
"Gak."
"Yaudah, abang gak maksa adek buat cerita. Abang juga gak peduli." Raka mengendikkan bahunya acuh. "Yoklah pulang." Raka menarik tangan Ragil dan Kinan.
"Yakin?"
Raka menghentikan langkahnya mendengar pertanyaan si pemalas. "Kenapa emang? Masih idup semua kok."
"Ini terakhir ketemu."
"Eum?"
Kinan mengulang perkataannya, dirasa otak Raka tidak menangkap ucapannya, "Terakhir ketemu dia."
"Oh, gitu? Oke."
Eeeh?!
Kinan tercenung sebentar, menunduk sambil memejamkan mata, tersenyum tipis dan membatin lega, "Syukur, deh."
KAMU SEDANG MEMBACA
Brotherhood
Ficção GeralProses Revisi Hanya memceritakan tentang kehidupan sehari-hari Kinan yang memiliki tingkat kemalasan dan kelesuan akut. Tidur, bermain, makan. 3 combo yang menyenangkan.
