Di sebuah pulau padat penduduk, jam menunjukkan pukul tiga sore. Matahari sudah mulai condong ke barat. Walau begitu di pusat kota suhunya masih terasa sangat panas seperti siang hari.
Jam ini juga waktunya untuk para murid di SMA Atalanta pulang setelah menghabiskan separuh harinya di sekolah.
"Kita mau ikut ke RS gakpapa, kan?" tanya Adi mewakili.
"Jangan dulu. Takutnya keadaan Raka belum baik terus di ruang rawat banyak orang, nanti dia sesek lagi." Ragil menjawab sambil memakai helm full face-nya. "Kalo udah pulang aja kalian jenguknya."
Mereka mengangguk saja. Lagipula benar apa yang dikatakan Ragil.
"Yaudah kalo gitu. Nanti kalo ada apa-apa kabarin, kita stay di basecamp kok," kata Adi.
Ragil mengangguk. Dia naik ke atas motor disusul Dinar di belakang. Males nyetir, kata Dinar tadi.
Ragil tidak bawa motor sendiri karena tadi pagi ikut naik mobil bersama kedua orang tua Dinar.
"Kita duluan," pamit Ragil. Setelah itu, dia menjalankan motornya ke jalan raya.
Memakan waktu sekitar 30 menit untuk sampai di rumah sakit. Mereka berdua langsung menuju kamar rawat Raka.
Dinar memimpin jalan, dia benar-benar sudah tidak sabar untuk bertemu sang adik. Ragil di belakangnya hanya geleng-geleng kepala melihat Dinar.
Dinar membuka pintu, hal pertama yang dia lihat adalah sang adik yang tengah bersama dua orang laki-laki seumuran. Mereka tengah asik mengobrol. Bahkan kedatangannya pun adiknya itu tidak tahu.
Melihat tatapan sang adik pada kedua remaja itu, membuat Dinar panas. Tatapan itu ... tatapan yang seharusnya hanya untuk dirinya. Dinar meremat handle pintu kuat.
Ragil menatap heran Dinar yang hanya diam berdiri di ambang pintu. Ketika dia akan menepuk pundaknya, tiba-tiba Dinar berbalik dan berjalan meninggalkan tempat itu.
"Heh, Nar! Mau ke mana!" ucap Ragil sedikit berteriak. Dia berdecak karena Dinar mengabaikan. Ragil memilih masuk, dia terkejut dengan keberadaan tiga orang yang sudah lama tidak dia temui.
"Lho kalian?"
"Kak Ragil? Hai, kak!" sapa Disa ceria.
"Iya." Ragil menatap Raka sejenak yang ternyata tidur, lalu dia beralih menatap keempat manusia di sana. "Kalian udah lama di sini?"
Tala dan Disa mengangguk. Memang sejak siang tadi mereka belum beranjak dari kamar rawat ini. Itu pun karena paksaan Gabi.
Ragil balas mengangguk juga. Dia berjalan menghampiri Raka, menempelkan punggung tangannya ke dahi lanjut ke leher sahabatnya itu. Mengecek, siapa tahu Raka demam. Namun, ternyata tidak, suhu tubuhnya normal. Syukurlah.
Ragil mendudukkan diri di kursi, menghadap Kinan yang sibuk mengusap kepala Tala dan Gabi. "Adek udah makan?"
Kinan mengangkat kepalanya, manik coklatnya langsung bertemu dengan manik abu-abu milik Ragil. Dia menggeleng sebagai jawaban.
"Bukannya tadi siang udah makan ya?" tanya Disa bingung.
Kinan menoleh. "Emang iya?"
Disa mengangguk mantap.
"Oh," jawab Kinan lempeng. "Sekarang laper."
Ragil terkekeh. Bisa-bisanya makan saja lupa, pikir Ragil tidak habis pikir. Unik memang tuan putrinya satu ini.
"Abang beliin makan dulu di kantin."
"Gue mau nasgor dong, Gil," sahut Raka tiba-tiba dengan suara serak. Sontak Ragil berbalik. Kaget karena Raka yang sudah bangun.
KAMU SEDANG MEMBACA
Brotherhood
Ficción GeneralProses Revisi Hanya memceritakan tentang kehidupan sehari-hari Kinan yang memiliki tingkat kemalasan dan kelesuan akut. Tidur, bermain, makan. 3 combo yang menyenangkan.
