Day 24 : Kena Masalah

61 2 0
                                        

"Habis ini kita ke kelas dua belas IPA," ucap cowok berkacamata mengingatkan.

"Iya."

"Dari mana dulu?" tanya Putra yang sedang sibuk dengan ponsel.

"IPA-1 aja kali, ya?" usul cowok yang duduk di depan cowok berkacamata. Ketiga cowok lainnya mengangguk setuju.

Saat ini, di kelas XII IPA-1 suasana cukup hening, hanya ada suara guru yang menerangkan dan beberapa murid yang berceloteh dengan teman sebangkunya. Sebagian murid lain lebih memilih tidur dengan menjadikan penjelasan guru sebagai dongeng pengantar tidur. Namun, juga masih ada yang memerhatikan.

Tok... Tok... Tok...

Suara ketukan pintu menghentikan kegiatan masing-masing. Mereka mengalihkan perhatiannya ke arah pintu, sebab ada empat orang cowok berseragam berbeda dengan mereka.

"Permisi, Pak!" sapa cowok berkacamata mewakili teman-temannya, sekaligus sebagai ketua program ini.

"Oh, iya. Kalian yang akan melakukan tes psikologis itu ya? Silahkan masuk."

"Iya, Pak. Terimakasih," jawab cowok berkacamata, kemudian keempat pemuda itu masuk.

"Baik. Kalau begitu, bapak pamit. Jangan lupa kerjakan tugas dari saya," pamit guru itu dan juga memberi pesan.

"Baik, Pak," balas para murid XII IPA-2 serempak.

"Siang semua," sapa cowok berkacamata.

"Siang," jawab mereka.

"Langsung aja, ya. Udah gak ada waktu soalnya. Perkenalkan kami dari SMK Pratama. Gue Nafta."

"Gue Putra," Putra memperkenalkan diri. Dan kedua cowok lainnya juga ikut perkenalan satu persatu dan menjelaskan tujuan mereka di sana.

"Kalo ada yang butuh temen cerita, yang punya masalah dan butuh solusi, atau yang lainnya bisa langsung hubungi kita aja atau bisa tunggu di ruang OSIS." ucap Nafta memberitahu, disela-sela ucapannya dia menunjuk papan tulis yang sudah dicoret-coret dengan nomor handphone. "Atau misal kalian mengalami hal aneh di diri kalian, kalian bisa konsul ke kami. Ini nomor handphone gue, kalo yang mau konsul di luar sekolah juga boleh. Program ini sebenernya dibuat untuk kelas 12 kar'na kalian, ah kita, kan sebentar lagi ujian, maka dari itu dilakukan program ini agar saat ujian kesehatan mental kita dalam kondisi baik..."

"Buat yang cewek, sebenernya kita ada satu anggota cewek tapi dianya udah pulang. Jadi kalo mau, tetep sama kita aja, janji gak bakal ngapa-ngapain," tambahnya.

"Dia gak pulang," celetuk seseorang dengan nada datarnya.

"Maksud lo? Bukannya tadi—" ucapan Nafta terpotong dengan suara pintu terbuka. Semua penghuni kelas itu menoleh.

Kinan menegang.

Menutup kembali pintu dengan cepat sampai menghasilkan suara keras.

Brak.

Bersembunyi di balik tembok, memegangi dadanya. Jantungnya tidak normal, tangan dan kakinya gemetaran, ditambah keringat dingin mengucur.

"Gue mau diterkam," gumam Kinan panik.

"Enggak ada, adek," sahut Ragil yang tiba-tiba sudah berada didekat Kinan. Membuat cewek itu terlonjak dan menatapnya kaget.

Ragil tertawa kecil. Mau berapa kali pun dia melihat ekspresi Kinan yang ini, tetap saja terlihat lucu dimatanya. Belum lagi matanya yang berkaca-kaca. Dia benar-benar merasa Kinan itu memang masih anak kecil.

"Kaget!"

"Hahaha, maaf maaf," ucap Ragil dan dia pun menyudahi tertawanya. "Ayo masuk, ditunggu yang lain."

BrotherhoodCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang