58: Tak di Sangka

315 46 4
                                        

Mathea langsung di larikan ke sebuah rumah sakit. Tapi sayangnya tak langsung di tangani lebih lanjut. Karena dokter bedah tengah cuti hari ini. Mungkin akan datang besok pagi.

Setelah para suster dan dokter umum memeriksa kondisi Mathea yang memiliki luka serius. Hingga Mathe harus menjalani operasi secepatnya. Atau rasa sakit akan terus menyerang perut bagain bawahnya.

Semalam rasanya sangat panjang. Tapi bertemu fajar begitu sangat cepat. Matahari sudah kembali bersinar. Suara monitor dari detak jantung Mathea terdengar tidak beraturan.

Perempuan itu terkujur tak berdaya di atas brankar. Semalam baru pembersihan luka. Itupun tidak tahu ada apa yang terluka di dalam sana.

Rencananya jam 10 pagi. Mathea akan di operasi.

"Maafin, Papah... papah khilaf."

"Om sarapan dulu." Clara membawa rantang makanan. "Mandi, ganti baju terus makan. Semalam Om belum makan."

"Simpen aja dulu di meja."

Clara menurut. Lalu kembali, ia memegang pipi Mathea. Ia menangis di samping perempuan itu. "Maafin aku." Lalu ia menatap wajah Mathea yang sangat pucat. "Kenapa lo gak sekalian mati aja sih," batinnya. Untuk menutupi ekspresinya. Ia memegang tangan Mathea lalu menciumnya. "Bangun dong Thea. Aku kangen kain bareng sama kamu."

"Sabar sayang, bentar lagi Thea bakalan panggil kamu mama. Seneng gak?" Arta mengelus bahu Clara.

Clara mendongak. "Hem iya seneng." Lalu beralih melihat Mathea. "Idih najis banget gue jadi ibu sambung mak lampir ini. Kalau bukan karena harta. Gue ogah!" batinnya.

"Permisi, Pak. Operasi di percepat. Jadi kami akan mempersiapkan semuanya."

Arta mengangguk. Ia melihat dengan jelas Mathea di dorong memasuki ruang operasi.

***

Althea menguap. Ia merentangkan kedua tangannya. Ia mengerjap. Melihat langit-langit kamar yang tersorot mentari. "Huammm udah siang?" Kaget langsung bangun. Ia melihat sekeliling. Lalu pandangannya teralihkan pada perutnya yang kian hari kian membesar.

Lama menatap perutnya. Althea tersenyum getir saat ia merasakan bayinya bergerak di dalam sana. Dengan gemas ia mengelus perutnya. "Sehat-sehat smarty. Bunda sayang kamu." Tiba-tiba ia sedih dan kembali menangis.

"Ck masih pagi malah mewek lo," celetuk Kenzo entah datang dari mana. Tiba-tiba sudah duduk di ujung kasur membawa nampan berisi roti dan susu. "Mening sarapan nih makan. Bayi butuh makanan bukan air mata emaknya."

Althea terkekeh. "Kamu pasti laper. Tapi aku belum masak. Aku bangun kesiangan. Kenapa gak bangunin?"

"Tadi dini hari ada gempa. Gue kebangun gak bisa tidur lagi. Eh lo malah nikmat aja molor. Gue bangunin buat bikin makanan gak bangun-bangun. Yaudah gue masak mie eh ketiduran sampe gosong."

Althea melotot. "Untung gak kebakaran!"

"Malah mikirin kebakaran bukan gue." Kenzo meletakkan nampan di atas nakas. Lalu menjatuhkan tubuhnya di atas paha Althea sebagai bantal. Ia memeluk pinggang Althea, menenggelamkan wajahnya di dekat perut Althea.

"Eh malah nendang nih bocah gak sopan sama bapak sendiri," decak Kenzo saat akan terlelap malah merasakan gerakan kecil dari perut Althea.

Althea tertawa. Kenapa ia merasa sangat nyaman dan tenang jika dekat dengan Kenzo. "Kamu ada-ada aja."

"Uh pengen di peluk atau di cium? Kalau peluk geraknya lembon kayak keong kalau cium harus cepet," tanya Kenzo. Namun tak mendapatkan respon ia juga tidak peduli. "Yaudah kalau gak mau. Ayah mau Bunda kamu aja ya."

ALTHEA [End]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang