21: Membuka Luka Baru

407 50 0
                                    

Althea mendorong pintu ruangan rawat mamanya. Imadea langsung melototinya. Padahal sebelumnya ia tengah mencoba memejamkan mata.


"Ngapain kamu ke sini!?" bentak Imadea belum apa-apa sudah emosi duluan.

Althea tak sanggup melihat wajah mamanya. Ia takut juga khawatir dan merasa sangat bersalah. Kalau mamanya tahu apa yang telah ia lakukan. Sudah pasti ia akan semakin kecewa. "Ma... hari ini mama boleh pulang kata dokter. Kita pulang ya?"

"Tidak! Saya tidak sudi kembali pulang ke rumah neraka itu! Lebih baik saja saya tetap disini sampai saya mati!" teriak Imadea begitu marah.

Hati Althea terluka lagi. Ia hanya mendengarkan ucapan mamanya. Sambil mengemasi barang-barangnya ke dalam tas.

"Pergi kamu! Pergi!" Imadea melempari kepala Althea dengan buah jeruk dan apel yang ada di piring atas nakas. "PERGI!"

Semua buah itu mendarat sempurna di kepala Althea. Membuatnta meringis juga menangis lagi.

Helena berhasil membuatnya tertawa lagi. Sedangkan Imadea berhasil membuatnya kembali menangis lagi.

2 orang yang memiliki peran yang sama. Sama-sama seorang wanita dan seorang ibu. Namun memiliki karakter yang berbeda.

Andai Althea bisa memilih siapa orang tuanya. Ia akan memilih tidak memilili sama sekali di banding memiliki tapi membuatnya terus terluka setiap hari.

"Ma, ayo. Aku udah pesan taksi kesukaan mama," ajak Althea.

Imadea turun dari brankar tanpa mau di bantu Althea. Sampai ia jatuh karena keseimbangan tubuhnya belum stabil.

"Aku udah bilang, biar aku bantu. Mama jadi jatuh, kan."

Saat Althea akan merangkul mamanya. Imadea malah mendorong Althea sampai ia terbentur ke dinding. Ingin sekali ia meminta keadilan. Tapi ai terlalu lembek untuk menghadapi Imadea yang terlalu keras.

Sekarang Imadea malah nekat berjalan sendirian tanpa mau sama sekali si tuntun oleh Althea. Berkali-kali ia jatuh bangun membuat jantung Althea mau copot.

Althea terus berlari mengejar Imadea sambil menahan segala sakit dan ngilu. "Mamah tunggu, Mah..."

Sampai di depan rumah sakit. Imadea malah memberhentikan sebuah taksi lalu naik tanpa menunggu Althea.

Althea berjalan membungkuk sambil memegangi lututnya. Saat ia berdiri di pinggir jalan. Ia melihat Gabriel berlalu memgendarai mobil sport sendirian. Lantas ia berbalik badan.

Tapi, sayangnya ada sesuatu berbisik di hati Gabriel. Dimana membuatnya menoleh. "Eh, Thea." Ia menghentikan laju mobilnya. Lalu menepikannya.

"Mathea!" panggil Gabriel.

Namun, Althea tak menggubrisnya malah kembali masuk ke area rumah sakit. Bukan tak dengar, hanya pura-pura tidak mendengarnya saja.

Althea berjalan cepat saat ia sekilas melihat Gabriel turun dari mobil.

"Kenapa dia datang sih," batin Althea menggerutu.

ALTHEA [End]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang