6: Lelaki Misterius

628 66 0
                                    

Malam ini hujan turun lagi. Hujan yang menbawa kenangan lama hingga mengungkit luka di hati Althea yang kini sudah basah kuyup, bukan hanya karena air hujan saja. Tapi juga air matanya yang terus menetes.

Matanya sudah merah dan terasa perih. Langkahnya juga gontai. Tubuhnya terasa sangat sakit. Kakinya juga pegal. Entah sudau berapa kilometer Althea berjalan. Intinya sudah sangat jauh.

Halilintar kembali menyambar membuat tubuh gadis itu tersentak.

Althea mendongak melihat kilatan halilintar di langit. Lalu ia memeluk tubuhnya sendiri yang terus menggigil kedinginan. Ia menyengir sakit. Entah harus siapa yang ia jeritkan di antara tangisnya.

Setiap tetesan air hujan membuat Althea sedih. Ia terus teringat saat papahnya pergi meninggalkannya dan mamanya. Mereka mulai kelaparan.

"Kenapa aku malah ujan-ujanan?" monolog Althea. Ia menjambak rambutnya sendiri. "Kamu bodoh! Bodoh!" pekiknya.

Tiba-tiba tubuh Althea ambruk di tengah jalan. Menunduk sambil menangis meraung-raung. Saling menjawab dengan suara alam saat ini.

Althea meremas batu kecil di atas aspal. Lalu melepaskannya lagi. Ia tak tahu apa yang harus ia katakan. Sangat sakit, dan lelah.

Samar-samar terlihat lampu mobil melaju di jalan yang sedang Althea lalui. Padahal sejak tadi jalanan sepi.

Di dalam mobil, remaja lelaki berkaca mata dan bermasker hitam tengah asik melihat jendela. Rasa ingin hujan-hujanan timbul di hatinya.

"Pak, boleh gak gue main air ujan sebentar aja. Asalkan jangan bilang ke mama ya?"

"Waduh gak bisa, Den. Nanti ibu marah, aden sakit gimana?"

Lelaki itu hanya merengut. Lalu terdiam dengan bibir yang manyun.

Mobil itu menyalakan klakson beberapa kali agar Althea menyingkir. Tapi Althea tutup telinga. Gadis itu sangat terpuruk dan punya banyak masalah.

TIN!

Althea masih tak mendengarnya.

"Berhenti, Pak!" titah remaja lelaki itu.

Mobilpun berhenti di samping Althea. "Bentar." Ia mengambil payung dan turun.

Lalu tiba-tiba Althea tidak merasakan air hujan menerpanya. Apakah sudah reda? Mana mungkin secepat itu. Perlahan ia mendongak. Menampakan lelaki bertubuh tinggi dan atletis. Namun seluruh wajahnya tertutup. Hanya matanya yang terlihat.

"Ka-kamu siapa?" tanya Althea dengan bibir yang bergetar.

Lelaki itu tidak menjawab. Hanya tersenyum keliatannya. Lalu menjulurkan gagang payung yang ia genggam pada Althea untuk di pegang olehnya.

Althea menerikanya meski kebingungan. Lelaki itu pasti tidak tahu wajahnya. Karena sebagian rambut tebalnya menutupi sebagian mukanya. "Ma-makasih."

Lelaki itu tidak menjawab. Lalu putar balik dan kembali masuk ke mobil.

"Jalan, Pak."

Mobil itu kembali melaju. Althea terus memandanginga dengan bingung. Sispakah dia? Mengapa baik sekali?

Lelaki itu membuka kacamata dan maskernya. "Jangan bilang sama mama soal tadi."

ALTHEA [End]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang