Hari-hari telah dilewati. Melewati beberapa bulan ini penuh suka dan duka. Hingga kini usia kandungan Anna telah memasuki tujuh bulan tiga minggu. Berdiri depan cermin, miring kanan, miring kiri. Terlihat dan terasa sekali perbedaan pada tubuhnya.
Tetapi, Anna merasa aneh dengan obat yang selama ini sudah ia minum. Secara diam-diam di kamar mandi setelah makan. Namun, ia merasa tidak ada hal apapun yang terjadi padanya.
Melihat kembali botol obat yang didapatkan dari rumah sakit kala itu. Saat ia baru saja tiba di London. Memutar-mutar botol obat itu. Anna merasa sudah sesuai anjuran dokter meminumnya. Tidak ada penggunaan yang salah.
Tapi, kandungannya terus saja berkembang. Tidak terjadi apapun dengan kandungannya. Anna mengusap perutnya pelan. Hatinya merasa bimbang sekarang.
"Apa lagi yang harus ku lakukan?" Gumamnya menatap tubuhnya depan cermin.
Anna duduk di tepi ranjang. Melihat perutnya yang sudah membesar.
Tok!, Tok!, Tok!.
Pintu kamar Anna diketuk.Anna menatap pintu kamarnya. Menghela nafasnya berat. "Siapa?" Balas Anna dari dalam kamar.
"Maaf, Nona. Ini saya." Sahutnya dari luar sana.
"Masuk!" Balasnya.
Pintu kamar pun terbuka memperlihatkan Nisa yang datang dengan membawa nampan berisikan makan malam untuk Anna.
"Nona belum makan malam. Silahkan, dimakan dulu, nona." Ucap Nisa seraya menaruh nampan itu di atas meja dekat sofa yang ada dalam kamar.
"Iya, terima kasih ya." Ucap Anna tersenyum kecil.
"Sama-sama, nona." Anna mengangguk hormat. "Apa ada yang nona butuhkan lagi?" Tanya Nisa sebelum keluar dari kamar Anna.
"Nisa, aku ingin puding mangga." Pintanya.
"Baik, nona. Saya akan siapkan." Anna mengangguk.
"Permisi nona, maaf mengganggu waktu istirahatnya."
Nisa pun keluar dari kamar Nona mudanya. Ia mengirimkan pesan terlebih dahulu kepada seseorang. Lalu, keluar dari unit Apartemennya. Turun menggunakan lift.
Nisa mencari keberadaan seseorang. Melihat ke kanan, ke kiri. Reflek Nisa menoleh ke belakangnya ketika ada yang menyentuh pundaknya.
"Heh! Bikin kaget saja. Mana pesanannya?" Tagih Nisa.
"Ini pudingnya." Orang itu memberikan pesanan Nisa.
"Puding mangga kan?" Nisa memastikannya lagi.
"Iya, puding mangga. Sepertinya anak itu akan sangat mirip dengan Tuan muda." Ucap orang itu.
"Sepertinya sih iya, karena dari makanan yang selalu diidamkan oleh Nona saja, beberapa makanan kesukaan Tuan muda, kan?" Terka Nisa yang diangguki oleh orang itu. " Kau sebagai tangan dan kaki tuan, pasti sangat mengerti betul tentang tuan mu kan?" Orang itu mengangguk lagi.
"Sekarang kita hanya tinggal berharap nona muda bisa menerima calon anak mereka saja yang masih dalam kandungannya." Harapan orang itu.
"Iya, aku harap juga begitu." Ucap Nisa menyetujui perkataan orang itu. "Oh iya, kamu dapat kabar dari tangan kanan tuan muda, kapan tuan muda akan ke London lagi?" Tanya Nisa kepada orang itu.
"Belum ada kabar. Tuan muda sedang sibuk dengan proyek besar yang katanya akan bekerja sama dengan salah satu perusahaan besar juga." Ungkap orang itu.
"Kamu tahu perusahaan apa?" Tanya Nisa penasaran.
"Tidak, aku bukan orang yang berkepentingan sampai sejauh itu tahu menahu tentang kehidupan tuan muda." Jelasnya.
"Oh, baiklah. Ya sudah, pasti nona sudah menunggu. Terima kasih ya."
"Siap!" Orang itu hormat kepada Nisa.
"Haha..., dasar aneh! Kenapa ya tuan muda mau memperkerjakanmu?" Ejek Nisa sembari melenggang pergi.
"Ya karena aku tampan. Sebelas dua belas lah sama tuan muda." Orang itu menaik turunkan alisnya.
"Ih! Kalau tuan muda tahu, kamu dipecat pasti." Ejeknya lagi seraya berlari kecil menuju lift.
Bersambung.
Thankquuu yang sudah selesai baca episode terbaruku 💙
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya 💜
Jaga kesehatan kalian dan bahagia selalu okkey 💚
See u on the next episode 👋💞
__________🌹🌹__________
KAMU SEDANG MEMBACA
Andreana Salma VS Dokter Ryann
RomancePerjodohan demi memenuhi keinginan orang tua. Namun, niat baik tidak berjalan mulus dengan kenyataannya. "Aku tidak ingin menikah. Hanya memuaskan keinginan orang tua saja. Paham?" Ryann. "Aku paham. Tidak perlu memberitahuku, aku pun tidak ingin...