Amaran berlutut di samping Fane sembari memegangi dagunya, sedangkan Lio kesulitan untuk membawa dua kantung berisikan makanan yang saat ini mulai berhamburan keluar. Sudah hening dalam beberapa saat untuk menunggu Fane mengeluarkan suaranya dan mulai membicarakan semuanya, tetapi lelaki itu tetap bergeming seolah ketakutan.
"Jadi?" tanya Lio yang ikut terduduk di depan keduanya. "Apa kalian hanya akan melihat keadaan seperti itu sampai malam hari datang?"
Amaran melirik Lio tajam untuk memberikan isyarat bahwa laki-laki itu harus diam. Fane, sepertinya sudah dipenuhi trauma. Dia bahkan sulit untuk mengatakan sepatah kata pun. Pasalnya bencana yang berdatangan ini pasti akan membuat siapa pun merasa terkejut dengan apa yang terjadi dan berakhir diam dalam keputusan asaan jika dia sudah kehilangan seseorang di hadapannya.
Sama seperti Lio sebelumnya yang hanya bisa berjalan tanpa arah, beruntung dia bisa bertemu dengan Amaran dan Darren yang secara sukarela bekerja sama dengannya. Dan kerja sama itu belum dimulai, tapi mereka sudah menemukan tujuan mereka.
Lio sejujurnya tidak percaya jika Fane memanglah si peringkat pertama, tapi Amaran begitu yakin jika Fane itu sama sekali tidak memalsukan identitasnya. Terutama saat dia melihat sebuah tanda centang itu, yang memberikan tanda jika Fane memanglah si peringkat pertama.
"Bibiku ...."
Amaran dan Lio terbesit untuk menatap Fane yang pada akhirnya mengeluarkan suara. Namun, hanya satu kata itu yang membuat mereka terdiam sejenak sebelum Fane kembali menyembunyikan wajahnya.
"Ada apa dengan bibimu?" tanya Amaran dengan nada lembut mencoba menenangkan Fane. Amaran juga menjadi agak khawatir, dia tidak melihat Darren sampai sekarang.
"Dia yang memaksa untuk mendaftarkanku ke dalam kompetisi ini. Dia langsung pergi ... saat aku mendapatkan peringkatku. Aku harus bagaimana? Aku benar-benar membutuhkannya untuk membantuku mencaritahu semuanya, dan alur mengenaskan yang kubuat."
Lio tersentak, jadi memang Fane si peringkat pertama?
"Aku mungkin saja bisa membantumu mencari bibimu itu, tapi sebelumnya berikan alasan yang jelas," jawab Amaran.
"Dia terus-terusan mencoba untuk membunuh dirinya sendiri," ujar Fane dengan lirih membuat Lio dan Amaran membelakak secara bersamaan. "Di hadapanku, dia terus mengatakan jika dia sangat menyesal. Setelah itu dia pergi meninggalkanku sendirian, kemudian aku menyadari sesuatu."
Lio sedikit mendekat untuk mendengar kata-kata Fane lebih jelas.
"Tindakan yang aku hadapi itu, semua yang aku terima dari bibi ... adalah jalan cerita yang aku tulis sendiri."
Alis Amaran menyatu. "Bagaimana bisa? Kamu sudah menyadarinya jika itu sebuah awalan yang ada di babak pertama ini?"
Fane mengangguk perlahan. "Aku menulis selipan adegan, ada orang dewasa yang akan meninggalkan seorang anak, ternyata itu adalah diriku." Fane tersenyum pahit, sudah beberapa kali membuat Lio terkejut dan tidak habis pikir dengan pengalaman yang Fane lewati. "Selain bibiku, aku juga ingin kalian membantu untuk menghilangkan tragedi-tragedi yang akan datang."
Amaran membelalak sebelum Fane berbicara. "Seseorang di antara kalian sedang berusaha untuk melepaskan dirinya dari sesuatu yang mengikatnya. Seorang antagonis dan protagonis yang telah aku buat. Dia berada di antara keduanya."
"Darren!" seru Lio, tetapi Amaran hanya memalingkan wajahnya tidak percaya. "Kedua tokoh penting itu, apakah mereka...?"
Fane mengangguk. "Mereka akan menguasai kompetisi ini, kemungkinan di beberapa babak yang akan datang, mereka akan merebut posisi pertama dan mengambil hak cipta. Selagi ada kesempatan ... kita harus menggugurkan salah satunya."
KAMU SEDANG MEMBACA
MAKE A PLOT
FantasíaSebuah karya telah dijadikan sebagai bahan kompetisi di awal tahun. Semua orang yang mengikutinya adalah orang-orang yang berkeinginan menjadi seorang penulis luar biasa. Tanpa mereka tahu jika kompetisi yang mereka alami bukan hanya sebuah kompetis...
