Darren menepuk-nepuk tangannya, seakan-akan memberikan penghargaan kepada Amaran yang hanya diam bersandar di lantai atas bangunan sembari melipat kedua tangannya di depan dada. Gadis itu memicingkan mata, memperhatikan Alesia dan beberapa orang yang sedang melakukan pertahanan dari sebuah serangan yang datang ke arah bangunan.
"Benar, semuanya sesuai dugaanmu." Darren menarik salah satu sudut bibirnya, menyeringai bangga. "Kekurangannya, kita tidak jadi menikmati kopi dan roti yang Lio buat."
Amaran memutar bola matanya. Menunjuk jendela dengan dagunya. "Sebaiknya kamu kembali mengendalikan Lio, dia sedang dalam masalah saat ini."
"Baiklah, nyonya serba tahu."
Darren berjalan menghampiri Alesia yang masih mengisi senjata-senjatanya dan beberapa orang yang membawakan banyak benda untuk ditukar oleh Alesia.
"Apa di sana benar-benar buruk?" tanya Darren mengintip dari balik jendela membuat Alesia hanya menjawabnya dengan anggukkan. "Laki-laki itu sangat ceroboh."
Alesia yang terlihat panik mencoba menahan napasnya. Sebelum menjawab sahutan Darren, gadis itu menelan ludah untuk menghilangkan rasa gugup sembari mengubah beberapa objek yang diberikan padanya untuk menjadi peluru atau senjata tambahan lain.
"A-aku sebenarnya tidak tahu apa alasan Amaran langsung menyarankan agar Lio saja yang menjadi umpan." Alesia memasukkan beberapa peluru yang baru dibuatnya dan menyodorkan senjata di tangannya kepada Darren. "Lebih anehnya lagi, Rafael setuju akan hal itu, t-tapi Lio membuatku agak khawatir dengan semua ini ... itu semua tidak berguna dan saat ini River sedang masuk ke dalam tempat ini."
Darren mengarahkan senjata di tangannya menuju semak-semak yang dekat dengan pagar bangunan, sampai dia menekan pelatuk dari senjata itu. Tak lama dia mendengar sebuah teriakan yang agak kencang dari objek yang baru saja diincarnya.
"Amaran, Lio tidak bisa dikendalikan," jawab Darren dengan tatapan kosongnya, sedangkan Amaran yang hanya memperhatikan setiap pergerakan anggota menggelengkan kepalanya. Darren menatap Alesia kemudian mengatakan sesuatu, "Alesia, bukankah lebih baik kamu istirahat saja?"
Amaran menghampiri Alesia dan memegangi tangan gadis itu. "Benar, keadaanmu sudah kacau, apa tugas yang diberikan si sok tua itu padamu?" tanya Amaran membuat Alesia segera melepaskan tangannya dan memberikan respon dengan gelengan kepala.
"T-tidak terlalu penting. Aku tidak ingin mengkhianati Rafael dengan menjadikan tubuhku sebagai kelemahan dari rencana ini." Alesia tersentak saat tangannya yang mencoba menyesuaikan beberapa benda justru terjatuh, terlebih lagi salah satu benda berat yang ada di tangannya mendarat tepat di atas punggung kakinya. "Aduh! Ya ampun, huhu...."
Amaran meringis, ikut merasa kesakitan. Alesia mungkin akan menangis sebentar lagi. Entah apa alasan gadis itu menjadi begitu frustasi. Namun, dapat Amaran lihat jika ada sesuatu yang mengganggunya, pada akhirnya Amaran harus membuka sesuatu yang sebenarnya tidak perlu ia lihat.
Alesia berdiri saat dia berhasil memunguti objek-objek yang berjatuhan di atas lantai. Matanya tidak sengaja menangkap seseorang yang berlari kencang di halaman bangunan. Saat Darren yang hendak menembaknya, Alesia tiba-tiba mengubah senjata yang dipegang Darren menjadi sebuah sendok berukuran besar.
"M-maafkan aku, t-tapi jangan ditembak...." Alesia dengan dadanya yang naik turun memperlihatkan betapa panik dirinya.
Darren menghela napas. "Kamu tidak sehat."
Amaran mengangguk. "Kita hentikan terlebih dahulu pekerjaanmu, ada beberapa orang yang masih memiliki kemampuan kata benda konkret sepertimu. Aku hanya perlu mengatakan ini kepada Rafael–"
KAMU SEDANG MEMBACA
MAKE A PLOT
FantasySebuah karya telah dijadikan sebagai bahan kompetisi di awal tahun. Semua orang yang mengikutinya adalah orang-orang yang berkeinginan menjadi seorang penulis luar biasa. Tanpa mereka tahu jika kompetisi yang mereka alami bukan hanya sebuah kompetis...
